Tampilkan postingan dengan label 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2014

Surat Al Mumtahanah Ayat 1 13 Terjemah

Surat Al-Mumtahanah dan Terjemahnya - Berikut ini Anda bisa simak dengan baik bacaan Surat Al-Mumtahanah dengan bahasa inggris, bahasa indonesia, dan bahasa arab dalam blog hikmah kehidupan, semoga bermanfaat.

yaa ayyuhaalladziina aamanuu laa tattakhidzuu aduwwii waaduwwakum awliyaa-a tulquuna ilayhim bilmawaddati waqad kafaruu bimaa jaa-akum mina lhaqqi yukhrijuuna rrasuula wa-iyyaakum an tu/minuu bilaahi rabbikum in kuntum kharajtum jihaadan fii sabiilii wabtighaa-a mardaatii tusirruuna ilayhim bilmawaddati wa-anaa alamu bimaa akhfaytum wamaa alantum waman yafalhu minkum faqad dhalla sawaa-a ssabiil
[60:1] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.
[60:1] O you who believe! do not take My enemy and your enemy for friends: would you offer them love while they deny what has come to you of the truth, driving out the Apostle and yourselves because you believe in Allah, your Lord? If you go forth struggling hard in My path and seeking My pleasure, would you manifest love to them? And I know what you conceal and what you manifest; and whoever of you does this, he indeed has gone astray from the straight path.

in yatsqafuukum yakuunuu lakam adaa-an wayabsuthuu ilaykum aydiyahum wa-alsinatahum bissuu-i wawadduu law takfuruun
[60:2] Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.
[60:2] If they find you, they will be your enemies, and will stretch forth towards you their hands and their tongues with evil, and they ardently desire that you may disbelieve.

lan tanfaakum arhaamukum walaa awlaadukum yawma lqiyaamati yafshilu baynakum walaahu bimaa tamaluuna bashiir
[60:3] Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
[60:3] Your relationship would not profit you, nor your children on the day of resurrection; He will decide between you; and Allah sees what you do.

qad kaanat lakum uswatun hasanatun fii ibraahiima walladziina maahu idz qaaluu liqawmihim innaa buraaau minkum wamimmaa tabuduuna min duunillaahi kafarnaa bikum wabadaa baynanaa wabaynakumu ladaawatu walbaghdaau abadan hattaa tu/minuu bilaahi wahdahu illaa qawla ibraahiima li-abiihi la-astaghfiranna laka wamaa amliku laka minallaahi min syay-in rabbanaa alayka tawakkalnaa wa-ilayka anabnaa wa-ilayka lmashiir
[60:4] Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."
[60:4] Indeed, there is for you a good example in Ibrahim and those with him when they said to their people: Surely we are clear of you and of what you serve besides Allah; we declare ourselves to be clear of you, and enmity and hatred have appeared between us and you forever until you believe in Allah alone -- but not in what Ibrahim said to his father: I would certainly ask forgiveness for you, and I do not control for you aught from Allah -- Our Lord! on Thee do we rely, and to Thee do we turn, and to Thee is the eventual coming:

rabbanaa laa tajalnaa fitnatan lilladziina kafaruu waghfir lanaa rabbanaa innaka anta laziizu lhakiim
[60:5] "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".
[60:5] Our Lord! do not make us a trial for those who disbelieve, and forgive us, our Lord! surely Thou art the Mighty, the Wise.

laqad kaana lakum fiihim uswatun hasanatun liman kaana yarjuullaaha walyawma l-aakhira waman yatawalla fa-innallaaha huwa lghanniyyu lhamiid
[60:6] Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.
[60:6] Certainly there is for you in them a good example, for him who fears Allah and the last day; and whoever turns back, then surely Allah is the Self-sufficient, the Praised.

asaallaahu an yajala baynakum wabaynalladziina aadaytum minhum mawaddatan walaahu qadiirun walaahu ghafuurun rahiim
[60:7] Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[60:7] It may be that Allah will bring about friendship between you and those whom you hold to be your enemies among them; and Allah is Powerful; and Allah is Forgiving, Merciful.

laa yanhaakumullaahu anilladziina lam yuqaatiluukum fii ddiini walam yukhrijuukum min diyaarikum an tabarruuhum watuqsithuu ilayhim innallaaha yuhibbu lmuqsithiin
[60:8] Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
[60:8] Allah does not forbid you respecting those who have not made war against you on account of (your) religion, and have not driven you forth from your homes, that you show them kindness and deal with them justly; surely Allah loves the doers of justice.

innamaa yanhaakumullaahu anilladziina qaataluukum fii ddiini wa-akhrajuukum min diyaarikum wazhaaharuu alaa ikhraajikum an tawallawhum waman yatawallahum faulaa-ika humu zhzhaalimuun
[60:9] Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
[60:9] Allah only forbids you respecting those who made war upon you on account of (your) religion, and drove you forth from your homes and backed up (others) in your expulsion, that you make friends with them, and whoever makes friends with them, these are the unjust.

yaa ayyuhaalladziina aamanuu idzaa jaa-akumu lmu/minaatu muhaajiraatin famtahinuuhunnallaahu alamu bi-iimaanihinna fa-in alimtumuuhunna mu/minaatin falaa tarjiuuhunna ilaa lkuffaari laa hunna hillun lahum walaa hum yahilluuna lahunna waaatuuhum maa anfaquu walaa junaaha alaykum an tankihuuhunna idzaa aataytumuuhunna ujuurahunna walaa tumsikuu biishami lkawaafiri was-aluu maa anfaqtum walyas-aluu maa anfaquu dzaalikum hukmullaahi yahkumu baynakum walaahu aliimun hakiim
[60:10] Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada
[60:10] O you who believe! when believing women come to you flying, then examine them; Allah knows best their faith; then if you find them to be believing women, do not send them back to the unbelievers, neither are these (women) lawful for them, nor are those (men) lawful for them, and give them what they have spent; and no blame attaches to you in marrying them when you give them their dowries; and hold not to the ties of marriage of unbelieving women, and ask for what you have spent, and let them ask for what they have spent. That is Allahs judgment; He judges between you, and Allah is Knowing, Wise.

wa-in faatakum syay-un min azwaajikum ilaa lkuffaari faaaqabtum faaatuulladziina dzahabat azwaajuhum mitsla maa anfaquu wattaquullaahalladzii antum bihi mu/minuun
[60:11] Dan jika seseorang dari isteri-isterimu lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari isterinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya kamu beriman.
[60:11] And if anything (out of the dowries) of your wives has passed away from you to the unbelievers, then your turn comes, give to those whose wives have gone away the like of what they have spent, and be careful of (your duty to) Allah in Whom you believe.

yaa ayyuhaa nnabiyyu idzaa jaa-aka lmu/minaatu yubaayinaka alaa an laa yusyrikna bilaahi syay-an walaa yasriqna walaa yazniina walaa yaqtulna awlaadahunna walaa ya/tiina bibuhtaanin yaftariinahu bayna aydiihinna wa-arjulihinna walaa yashiinaka fii maruufin fabaayihunna wastaghfir lahunnallaaha innallaaha ghafuurun rahiim
[60:12] Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[60:12] O Prophet! when believing women come to you giving you a pledge that they will not associate aught with Allah, and will not steal, and will not commit fornication, and will not kill their children, and will not bring a calumny which they have forged of themselves, and will not disobey you in what is good, accept their pledge, and ask forgiveness for them from Allah; surely Allah is Forgiving, Merciful.

yaa ayyuhaalladziina aamanuu laa tatawallaw qawman ghadhiballaahu alayhim qad ya-isuu mina l-aakhirati kamaa ya-isa lkuffaaru min ash-haabi lqubuur
[60:13] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.
[60:13] O you who believe! do not make friends with a people with whom Allah is wroth; indeed they despair of the hereafter as the unbelievers despair of those in tombs.

Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan baik disengaja ataupun tidak disengaja. Terima kasih..

Jumat, 13 Juni 2014

KARAKTERISTIK MANHAJ DAWAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH bagian 1

Penulis: Al-Ustadz Luqman Jamal, Lc

Karakteristik manhaj/dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang membedakannya dengan ahlul bidah sangat banyak dan telah dijelaskan oleh para Imam Ahlus Sunnah Wal Jamaah dalam banyak kitab karya mereka dan tersebar luas di kalangan kaum muslimin, untuk itu kami sebutkan disini sebagian dari karakteristik tersebut. Mudah-mudahan bermanfaat bagi para pembaca dan kaum muslimin pada umumnya untuk mengetahui manhaj / dakwah Ahlussunnah wal Jamaah yang sebenarnya. Amin. Diantara karakteristik tersebut adalah sebagai berikut :





1. Ahlus Sunnah Wal Jamaah dalam menerima dan mengambil agama dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih.



Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :



اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amatlah sedikit kalian mengambil pelajaran (daripadanya)”.(QS.Al-A’raf : 3)



Dan Allah Jalla Dzikruhu menyatakan dalam surah Al-Hujurat ayat 1 :



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya”.



Dan Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda :



تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا : كَتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ

"Saya meninggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat sesudahnya (yaitu) Kitabullah dan Sunnahku dan keduanya tidak akan bercerai sampai keduanya menemuiku di telaga". (Shohih Jami Ash-Shoghir karya Al-Albany jilid 3 hal. 39 no. 2934).



Berkata Imam Az-Zuhry rahimahullah : “Dari Allah (turunnya) Ar-Risalah (agama,syari’at) dan kewajiban Rasul (shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam) adalah menyampaikan dan kewajiban kita adalah At-Taslim (menerima, tunduk, berserahkan diri)". (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dalam Kitab At-Tauhid secara mu’allaq, lihat Fathul Bary 13/508).

Dan Imam Ath-Thohawy menyatakan : “Tidaklah tsabit (kuat) keislaman seseorang kecuali dengan menerima dan berserah diri (kepada kitab dan sunnah-pent.) dengan sepenuh hati”. (Dari Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyah hal.201)



2. Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah tidak membedakan antara Al-Qur`an dan As-Sunnah karena keduanya dari sisi Allah Azza wa Jalla dan keharusan menerimanya adalah sama.



Allah Azza Wa Jalla berfirman :



وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

"Dan tidaklah yang dia (Rasulullah) ucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain

kecuali wahyu yang diwahyukan padanya. (QS.An-Najm : 3-4)

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :



مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

"Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah". (An-Nisa` : 80)



Dan Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda :



أَلاََ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

"Ketahuilah sesungguhnya saya telah diberi Al-Qur`an dan yang semisal dengannya". (HR.Ahmad 4/130-131,Abu Daud 5/13 No.4605 dan dishohihkan oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shohih Al Jami 2643.)



3. Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah berhujjah dengan hadits-hadits yang shohih, baik yang mutawatir maupun Ahad, baik dalam masalah Aqidah maupun Ahkam dan tidak ada perbedaan antara keduanya.



Allah Taala berfirman :



وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

"Dan apa-apa yang Rasul datangkan kepada kalian maka terimalah dan apa-apa yang beliau larang maka tinggalkanlah" (QS. Al-Hasyr :7 )



Allah Taala berfirman :



فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.". (An-Nisa` : 59)



Berkata Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al-Ihkam hal 102 : "Maka benarlah dengan ini bahwa ummat ber-ijma (bersepakat) dalam menerima khabar ahad seorang yang terpercaya dari Nabi shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam dan juga seluruh kaum muslimin menerima khabar ahad seorang yang terpercaya dari Nabi shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam."

Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Ash-Showaiq Al-Mursalah 2/262 : "Maka yang dijadikan sandaran oleh orang-orang yang menafikan ilmu (yakin) dari hadits-hadits Nabi shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam, yang dengan hal tersebut mereka telah mengoyak/merobek ijma para shahabat yang dimaklumi secara darurat (pasti) dalam agama, (mengoyak) ijma para tabiin dan ijma para imam kaum muslimin. Dan mereka (yaitu orang-orang yang menafikan bahwa hadits ahad memberi faedah ilmu-pent.) dengan hal tersebut telah mencocoki kaum Mutazilah, Jahmiyah, Rafidhoh dan Khawarij".



4. Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah dalam memahami, mengambil dan mengamalkan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shohih dengan mengikuti jalan As-Salaf Ash-Sholeh.



Allah Azza wa Jalla kewajiban mengikuti jalan mereka dalam firman-Nya :



وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar". (QS. At-Taubah : 100)



Dan Allah Subhanahu Wa Taala mengancam orang yang menyelisihi jalan mereka dengan firman-Nya :



وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu`min, maka Kami biarkan ia larut terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali".".(QS. An-Nisa :115)



Dan Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda :



عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيْيِنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

"Wajib atas kalian untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan kepada sunnah Al Khulafa yang mendapat hidayah dan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah terhadap perkara yang baru dalam agama. Karena sesungguhnya semua perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat".



Kata Imam Ahmad (Ushul As-Sunnah hal.14) : "Dasar–dasar sunnah (agama) di sisi kami adalah berpegang teguh pada apa yang ada pada shahabat Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam, mencontoh mereka dan menjauhi bidah-bidah karena setiap bidah adalah kesesatan".

Dan berkata Imam Ash-Shabuni (Aqidatus Salaf hal.114) : "Dan mereka (Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Ahlul Hadits-pent.) mengikuti para salaf yang sholeh dari Imam-Imam dalam agama dan ulama-ulama kaum muslimin dan mereka berpegang teguh sesuai dengan apa yang ada pada mereka, memegang teguh agama dengan kokoh dan berada di atas kebenaran yang nyata".



5. Berdasarkan point di atas Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah meyakini bahwa jalan As-Salaf Ash-Sholeh adalah Aslam (lebih selamat), Alam (lebih alim) dan Ahkam (lebih berhikmah) tidak sebagaimana yang disangka oleh Ahlul Kalam dan semisalnya bahwa jalan As-Salaf Ash-Sholeh hanya Aslam sedangkan jalan Khalaf (Orang-orang belakangan) Alam dan Ahkam.



Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah : "Dan sungguh mereka telah membuat kedustaan terhadap jalan Salaf dan mereka telah sesat dengan membenarkan jalan Khalaf. Maka merekapun mengumpulkan antara kebodohan tentang jalannya Salaf dengan berdusta atas mereka dan antara kebodohan dan kesesatan dengan membenarkan jalannya Khalaf. ( Lihat :Fatawa Al-Hamawiyah Al-Kubro hal. 31-32, cet. Maktabatu Harro`)



6. Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah memulai dakwah mereka dengan yang paling penting kemudian yang penting setelahnya. Karena mereka mendahulukan apa yang didahulukan oleh Allah dan rasul-Nya dan mengakhirkan apa yang diakhirkan oleh Allah dan rasul-Nya.

Allah Subhanahu Wa Taala berfirman :



وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَى بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat. ". (QS.Al-Qashash : 43)

Syeikh Sholih Al-Fauzan hafizhohullah dalam kaset yang berjudul “Al-Qowa’id Fii Al-Minhaj” menukil dari Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa ayat ini menunjukkan sesungguhnya ahkam (hukum-hukum) itu turun setelah tetapnya syariat ketika Allah telah membinasakan Firaun dan kaumnya. Kemudian setelah dakwah nabi Musa alihissalam kokoh, barulah Allah menurunkan kepadanya Al-Kitab yaitu Taurat.

Dan juga dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda :



نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

"Kami memulai dengan apa yang Allah memulai dengannya". (HSR. Muslim)

7. Prioritas utama dakwah Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah adalah dakwah kepada tauhid. Karena itu merupakan misi dakwah para nabi dan rasul di muka bumi ini. Mereka memulai dakwahnya dengan tauhid dan mengakhirinya dengan tauhid.

Allah Azza wa Jalla berfirman :



وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu".". (QS. An-Nahl : 30)

Dan Allah Jalla Dzikruhu berfirman :



وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".". (QS. Al-Nahl : 36)

Dan Allah Jalla Sya`nuhu menyatakan :



وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu : "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.". (QS. Az-Zumar : 65)



Dan Allah Rabbul Izzah berfirman :

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ ءَابَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

"Adakah kamu hadir ketika Yaqub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya : "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab : "Kami akan menyembah sesembahanmu dan sesembahan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) sesembahan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya" (QS.Al-Baqarah : 133).

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, beliau berkata :



لَمَّا بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ إِلَى الْيَمَنِ قَالَ لَهُ إِنَّكَ تَقْدُمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوْا اللهَ تَعَالَى.

"Tatkala Nabi shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau berkata kepadanya : "Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaknya yang engkau dakwahkan di awal kali kepada mereka adalah untuk mentauhidkan Allah Taala". (HSR.Bukhary-Muslim)

Dan di akhir hayat Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam dalam keadaan sakit, beliau juga memperingatkan dari kesyirikan sebagaimana sabda beliau :



لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَىَ اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

"Allah telah melaknat orang yahudi dan nashoro, mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid". (HSR.Bukhary-Muslim)



8. Dakwah Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah adalah dakwah sumuliyah (universal) mencakup seluruh bagian agama tanpa terkecuali. Mereka mengagungkan dan memuliakan seluruh perkara agama karena sifat syariat itu adalah cocok untuk segala zaman, setiap umat dan keadaan.

Allah Jalla wa ala berfirman :



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqorah : 208)

Kata Ibnu Katsir mentafsirkan ayat ini : "Allah Taala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya lagi membenarkan rasul-Nya, untuk mengambil seluruh bagian-bagian Islam dan syariatnya, mengerjakan semua perintah-perintahnya dan meninggalkan seluruh larangannya sesuai dengan apa yang mereka mampu".

Dan Allah Jalla tsana`uhu berfirman :



ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati". (QS. Al-Hajj : 32)

Dan Allah Azzat Azhomatuhu berfirman :



ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah yang terbaik baginya di sisi Rabbnya". (QS. Al-Hajj : 30)

Bahkan perkara-perkara yang kelihatannya sepelepun diterangkan dalam agama ini sehingga membuat orang-orang musyrikin dan ahlul kitab iri hati dan dengki sebagaimana dalam hadits Salman Al-Farisy beliau berkata :



قَالَ لَنَا الْمُشْرِكُوْنَ هَلْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْئٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ, قَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِيْنِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلِّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيْعٍ أَوْ بِعَظْمٍ.

"Kaum musyrikin berkata kepada kami : "Apakah nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) tata cara buang air, maka dia menjawab : benar, sungguh beliau telah melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau kencing, (melarang) kami beristinja` dengan tangan kanan, (melarang) kami beristinja` kurang dari tiga batu atau kami beristinja` dengan kotoran atau tulang. (HR.Muslim)



9. Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah terus-menerus menampakkan kebenaran dan membelanya sampai hari kiamat dan tidak takut cercaan orang yang mencela mereka.



Allah Azza wa Jalla berfirman :



فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (QS. Al-Hijr : 94)



Dan Allah Jalla tsana`uhu berfirman :



وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

"Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Quran, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.". (QS. Al-Anam : 55)



Dan Allah Jalla Sya`nuhu telah mengambil janji kepada manusia supaya tidak menyembunyikan kebenaran dalam firman-Nya :



وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya." (QS. Ali Imran : 187)



Dan Allah Jalla Sya`nuhu menyatakan ancaman untuk mereka yang menyembunyikan kebenaran dalam firman-Nya :



إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.". (QS. Al-Baqorah : 174)



Dan Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda dalam hadits yang mutawatir riwayat Bukhary,Muslim dan lain-lainnya :



لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca dan orang yang menyelisihi mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu”.



Dan dalam hadits Ubadah bin Shomit riwayat Bukhary-Muslim, beliau membaiat Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam atas beberapa perkara, diantaranya :



وَعَلَى أَنْ نَقُوْلَ الْحَقَّ أَيْنَمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

"Dan agar kami mengucapkan kebenaran dimanapun kami berada, kami tidak boleh takut di (jalan) Allah terhadap cercaan orang yang mencerca."



Dan dari Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallahu anhu, Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam memerintahkannya dengan tujuh perkara, diantaranya :



وَأَنْ أَقُوْلَ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

"Dan hendaknya aku mengucapkan kebenaran walaupun itu pahit". (H.R Ahmad 5/159.173 dan lain-lainnya dan dishohihkan oleh Al-Muddits Al-Allamah Al-Albany rahimahullah dalam Ash-Shohihah no. 2166 dan Syaikh Muqbil Al-Wadiiy rahimahullah dalam Ash-Shohih Al-Musnad)





10. Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah tetap di atas Al-Haq dan tidak ragu, bimbang, goncang, atau kontradiksi sebagaimana kebiasaannya pengekor hawa nafsu.



Allah Subhanahu wa Taala berfirman :



وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami". (QS. Al-Isra` : 74-75)



Dan Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah :



إِنَّ مِنْ شَرِّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِيْ يَأْتِيْ هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ

"Sesungguhnya dari sejelel-jelek manusia adalah yang mempunyai dua muka yang datang kepada mereka (suatu kaum) dengan satu wajah dan (datang) kepada mereka (kaum yang lain) dengan dengan satu wajah (yang lain) ". (HSR. Bukhary-Muslim)



Mereka selalu ingat dan memperhatikan nasehat Hudzaifah bin Yaman kepada Abu Masud radhiyallahu anhuma :



اعْلَمْ أَنَّ الضَّلاَلَةَ حَقَّ الضَّلاَلَةِ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ وَأَنْ تُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنَ فَإِنَّ دِيْنَ اللهِ وَاحِدٌ

"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kesesatan yang sebenarnya adalah kamu ketahui apa yang dulu kamu ingkari dan kamu ingkari apa yang dulu kamu ketahui dan berhati-hatilah terhadap berubah-ubah dalam agama karena sesungguhnya agama Allah itu satu". (Diriwayatkan oleh Mamar bin Rasyid dalam Jaminya sebagaimana di akhir Mushonnaf Abdurrazzaq 11/249, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 7/140, Al-Harits bin Abi Usamah dalam Musnadnya no. 470 (Zawa`id Al-Haitsamy), Al-Baihaqy 10/42 dan Al-Lalaka`iy dalam Ushul Itiqod Ahlis Sunnah Wal Jamaah 1/90)

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Manhaj&article=8
http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=905