Tampilkan postingan dengan label setelah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setelah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juni 2014

Kisah Nyata – Berkat Doa Akhirnya Punya Anak Setelah Divonis Mandul

Inilah kisah keajaiban sebuah doa. Lima tahun berkeluarga, Nur dan Rio tidak juga mendapatkan putra. Kegelisahan Nur semakin bertambah setelah hasil tes rumah sakit menunjukkan bahwa dirinya mandul. Nur bahkan kehilangan keceriannya selama beberapa minggu setelah mengetahui hasil tes itu. Wanita berusia 29 tahun itu seperti kehilangan nyawa. Rio sendiri menyesal telah mengajak istrinya untuk bersama-sama memeriksakan kesuburan mereka.

Kisah Nyata – Berkat Doa Akhirnya Punya Anak Setelah Divonis Mandul


Suatu hari, Rio teringat Haji Muhidin yang terkenal bijak. Ia pun memutuskan untuk silaturahim dan berbagi masalah yang berat itu, siapa tahu haji yang tersohor dengan kebaikannya ini bisa membantu.

“Maaf, kapan terakhir Nak Rio berdoa...?” tanya Haji Muhidin setelah Rio bercerita mengenai masalahnya dan kondisi istrinya yang saat ini ‘setengah gila’ karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya mandul.

“Lupa saya...” jawab Rio malu-malu. Ia mengakui sudah lama tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Bahkan perasaan saya, sejak SMP saya tidak shalat.”

Haji Muhidin manggut-manggut. Ia tidak menyalahkan Rio karena boleh jadi orangtuanya yang tidak mendidiknya dengan baik. Tidak mengenalkannya kepada Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah dan dimintai pertolongan.

“Mengapa sekarang tidak memulainya lagi? Memulai berdoa dan shalat maksud saya,” Haji Muhidin memberikan umpan pertanyaan.

“Begitu ya?...”

“Nanti saya ajari caranya,” Haji Muhidin menangkap keragu-raguan Rio, bahwa ia memang tidak bisa shalat.

“Shalatlah dulu semampu Nak Rio, sambil perlahan-lahan diperbaiki. Tapi kalau berdoa, Nak Rio tidak perlu belajar. Berdoa itu hanya perlu keyakinan akan dikabulkan Sang Maha, dan berdoa hanya perlu kesungguhan hati sebagai prasyarat awal.”

“Nak Rio tahu? Tuhan itu begitu Kuasa. Ia mampu mengabulkan permintaan yang kadang bagi kita tidak mungkin. Kadang kita merasa tersudut, nyatanya Dia masih berkenan memberikan jalan keluar. Kadang kita merasa terjatuh, tapi Dia berkenan membuat kita bangkit. Dan kadang kita merasa sesuatu sudah berakhir, tapi nyatanya Dia masih berkenan memberikan kesempatan.”

Pertemuan itu benar-benar berpengaruh besar dalam hidup Rio. Ia bagaikan bertemu oase di padang pasir. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh nasehat Haji Muhidin yang menjelaskan bahwa tidak semua hal berjalan sesuai dengan kehendak manusia.

“Berdoa dan menyandarkan diri kepada Sang Khaliq akan membuat hati kita tetap sejuk untuk sadar, dan itulah sisi keterbatasan kita sebagai manusia, sambil tidak lupa berusaha dan berdoa.”

“Bukan kemandulan yang harus disedihkan, tetapi tidak punya iman yang harus dikhawatirkan.” Nasehat ini terus diingat oleh Rio, menjadi pegangan hidupnya.

Dan lima tahun kemudian, setelah terus berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, istri Rio bukan saja pulih kondisi fisik dan mentalnya, ia kini juga sedang berada di rumah sakit. Bukan untuk rawat lanjutan, melainkan untuk menjalani proses bersalin.


“Allahu Maha Besar,” kata Rio di samping Haji Muhidin yang menemaninya di rumah sakit, “Saya sendiri tidak tahu bagaimana keajaiban ini bisa terjadi.”  Mari kita berdoa ![Disarikan Abu Nida dari Kun Fayakun karya Ust. Yusuf Mansur]

Minggu, 20 April 2014

Doa Setelah Shalat Tarawih

بسم الله الرحمن الرحيم
اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنْ، وَلِلْفَرَآئِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكاَةِفَاعِلِيْنَ، وَلَمَاعِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِى الْأَخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَآءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَآءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَآءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَآءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَآئِرِيْنَ، وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ، وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَمِنْ حُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آَكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مَنْ مَعِيْنٍ، مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيْقًا، ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَآءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَآءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allahummaj`alna bil imani kamilin, wa lilfa-raidhi muaddin, walishshalati hafizhin, walizzakati fa`ilin, wa lima indaka thalibin, wa li`afwika rajin, wa bil-huda mutamassikin, wa `anillaghwi mu’-ridhin.wa fiddunya zahidin, wa fillakhirati raghibin –wa bil qadhai radhin, wa bin-na`mai syakirin, wa’alal-balaya shabirin wa tahta liwai sayyidina, muhammadin shalallahu alaihi wa sallama yaumal–qiyamati sairin wa ilal hawdhi waridin wa fil jannati dakhilin wa minannaari naajiin wa`ala sariril-karamati qa`idin wa bihurin inin mutazawwijin, wa min sundusin wa istabraqin wa dibajin mutalabbisin, wa min tha a’amil jannati akilin , wa min labanin waasalin mushaf-fan syaribin, bi-akwabin wa abariqa wa kasin min ma’in ma`al-ladzina an`amta `alaihim minan-nabiy-yina wash-shiddiqina wasy-syuhadai wash-shalihin. Wa hasuna ulaika rafiqa, dzalikal-fadhlu minalllahi wa kafa billahi `alima. Allahummaj`alna fi hadzihil lailatisy-syarifatil-mubarakati minas-su`ada-il-maqbulina wa la taj`alnallahumma minal-asyqiya-il –mardudina. washollalloohu alaa sayyidinaa Muhammadin wa Aalihii wa shohbihii ajmaiin. birahmatika ya Arhamar-rahimin.Walhamdu lillaahi rabbil aalamiin.

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap-Mu, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akherat , yang ridha dengan ketentuan, yang ber¬syukur atas nikmat yang diberikan, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, sampai kepada telaga (yakni telaga Nabi Muhammad) yang masuk ke dalam surga, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah de¬ngan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.

Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini tergolong orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya, Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas penghulu kita Muhammad, keluarga beliau dan shahabat beliau semuanya, berkat rahmat-Mu, oh Tuhan, Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

والله أعلم بالصواب