Tampilkan postingan dengan label allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label allah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Agustus 2014

Bagaimana memahami Kebersamaan Allah dengan makhlukNya

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Dalam memahami ayat-ayat tentang dekatnya Allah dengan makhluk-Nya, seringkali terjadi kesalahan pada kaum muslimin. Kebanyakan mereka mengira bahwa ayat-ayat tersebut bertentangan dengan dalil-dalil ‘uluw (tinggi)nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Seperti ayat-ayat yang menyatakan kebersamaan Allah سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya sebagai berikut:
...وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ....الحديد:4
…Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada... (al-Hadiid: 4)

Juga ayat yang menyatakan dekatnya Allah dengan makhluk-Nya. Diantaranya Allah سبحانه وتعالى berfirman:
...وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ. ق: 16
… dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (Qaaf: 16)

Ayat-ayat yang menyatakan Allah sebagai ilah di bumi. Seperti Ucapan Allah سبحانه وتعالى:
وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي اْلأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ. الزخرف: 84
Dan Dialah ilah di langit dan ilah di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (az-Zukhruf: 84)

Ayat-ayat yang tersebut di atas dan yang semakna dengannya seringkali menyebabkan sebagian kaum muslimin keliru dalam memahaminya. Sebagian diantara mereka menyatakan “Allah ada di mana-mana”, “Allah di hati” atau “Allah menyatu dengan makhluk-Nya”, seperti ucapan Jahm bin Sofwan -pencetus aliran Jahmiyah:”Allah di segala sesuatu, bersama setiap sesuatu”. Hingga akhirnya mereka menentang sekian banyak ayat dan hadits yang menyatakan tingginya Allah di atas seluruh makhluk-Nya.

BANTAHAN DAN PENJELASANNYA
A. Kebersamaan (Maiyyah) Allah
Secara bahasa makna ma’iyyah (kebersamaan) tidak mesti bermakna bersatu dalam satu tempat, tetapi bermakna kebersamaan secara mutlak, apakah bersama-sama dalam satu amalan yang sama di tempat yang berbeda atau bersama dalam artian mengawasi atau memperhatikan dan lain-lain. Maka ma’iyyah Allah harus ditafsirkan sesuai dengan dlahir ayatnya masing-masing. (Lihat ucapan Syaikh Utsaimin dalam Qawa’idul Mutsla hal. 103).

Maka ayat-ayat tentang tentang kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, sama sekali tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang menyatakan tingginya Dzat Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Hal itu karena bagi Allah semuanya dekat, karena Allah Maha Besar, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, bahkan mengetahui bisikan-bisikan yang masih ada dalam dada.

Kalau kita perhatikan lebih lanjut ayat-ayat di atas secara lengkap, akan terlihat kalau ayat-ayat tersebut berbicara tentang ilmu, pendengaran, penglihatan, atau dukungan dan pembelaan Allah سبحانه وتعالى. Diantaranya:
1. Kebersamaan dengan ilmu-Nya
Seperti Ucapan Allah سبحانه وتعالى:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ. الحديد: 4
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia beristiwa’ di atas arsy. Dia Maha Mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya; apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (al-Hadiid: 4)

Imam Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya tentang ayat di atas, maka beliau menjawab: “Dia bersama kalian yakni dengan ilmunya” (diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang Hasan dalam kitab Asma’ wa sifat, hal. 341)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Dlahir ayat ini menunjukkan bahwa makna ma’iyyah yang sesuai dengan konteksnya adalah memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui tentang kalian. Inilah maksud perkataan salaf: ‘Bersama mereka dengan ilmu-Nya’. Dan ini adalah dlahir ayat dan hakikatnya (bukan ta’wil –pent.) (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, juz V hal. 103)

Faedah lain dalam ayat ini adalah tidak adanya pertentangan antara tinggi (‘uluw)nya Allah di atas ‘Arsy dan kebersamaan (ma’iyyah)-Nya dengan makhluk-Nya, karena dalam ayat ini kedua-duanya disebutkan bersama-sama.

Berkata Ibnul Qayyim: “Dalam ayat ini Allah menghabarkan bahwa diri-Nya tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dan sekaligus menyatakan bersama makhluk-Nya, melihat dan memperhatikan amalan mereka dari atas ‘Arsy-Nya. Seperti dalam hadits: (“Allah di atas ‘Arsy-Nya melihat apa yang kalian kerjakan”). Maka ‘uluw-Nya Allah tidak bertentangan dengan ma’iyyahnya; dan maiyahnya tidak membatalkan ‘uluwnya. Kedua-duanya adalah benar”. (Mukhtashar Shawa’iq al-Mursalah, hal. 410).

Demikian pula ayat berikut menunjukkan ilmu Allah:
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ وَلاَ خَمْسَةٍ إِلاَّ هُوَ سَادِسُهُمْ وَلاَ أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلاَ أَكْثَرَ إِلاَّ هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا... المجادلة: 7
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (al-Mujadalah: 7)

2. Kebersamaan dengan makna mendengar dan melihat
Seperti dalam firman-Nya:
قَالَ لاَ تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى. طه: 46
Allah berfirman:"Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (Thaha: 46)

Demikian pula ayat Allah:
قَالَ كَلاَّ فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُون الشعراء: 15
Allah berfirman: "Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Kami bersama kalian mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan). (asy-Syu’ara: 15)

3. Kebersamaan dengan makna dukungan dan pembelaan
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ. محمد: 35
Janganlah kalian lemah dan minta damai padahal kalianlah yang di atas dan Allah pun bersama kalian. Dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amal kalian. (Muhammad: 35).

Dan juga ayat Allah:
إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلاَئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ اْلأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ. الأنفال: 12
(Ingatlah), ketika Rabb-mu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kalian. Maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir. Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.… (al-Anfaal: 12)

B. Kedekatan Allah
Demikian pula dengan ayat-ayat yang menunjukkan kedekatan Allah dengan makhluk-Nya, bermakna dekat dengan ilmunya, mendengarkan doa dan mengabulkannya atau bermakna malaikat-malaikat yang diperintahkan-Nya. Dengan tidak menafikan dekatnya Allah secara Dzat-Nya.
Walaupun kita meyakini tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya, tetapi bagi Allah semuanya dekat, karena besarnya Dzat Allah. Dunia dan seisinya serta langit di sisi-Nya tidak lebih seperti biji khardalah (partikel terkecil). Tentu saja secara Dzat-Nya Allah sangat dekat dengan hamba-Nya.

1. Dekat dengan makna Maha Mengetahui, Maha Mendengar do’a dan mengabulkan
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ. البقرة: 186
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (al-Baqarah: 186)
Dan firman-Nya:
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ. هود: 61
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu ilah selain Dia. Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Rabb-ku amat dekat lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (Huud: 61)

2. Dekat dengan makna para malaikat yang diperintahkan-Nya
Seperti firman-Nya
وَلَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ. ق: 16
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaaf: 16)
Syaikh Utsaimin menyatakan bahwa makna ‘dekat’ pada kalimat di atas adalah dengan para malaikat yang diperintahkan-Nya. Karena ini berkaitan dengan ayat selanjutnya:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ. ق: 18
Tidak ada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaaf: 18) (Lihat Qawa’idul Mutsla, Syaikh Utsaimin)
Demikian pula dalam firman-Nya:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لاَ تُبْصِرُونَ. الواقعة: 85
Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat. (al-Waqiaah:85)
Makna ‘kedekatan’ dalam ayat ini adalah berkaitan dengan kematian ketika mendatangi seseorang. Maka yang dimaksud adalah para malaikat yang diperintahkan-Nya. Karena ayat sebelumnya membahas tentang kematian, yang tentunya Allah memerintahkan kepada malaikat pencabut nyawa. Jadi, yang dimaksud ‘dekat’ di sini adalah malaikat yang diperintahkan-Nya.

Dan sering dalam al-Quran disebutkan apa yang dilakukan oleh para malaikat dengan ‘kami’ karena mereka melakukan semua apa yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى. Maka Allah nisbatkan apa yang mereka lakukan kepada diri-Nya. (Lihat Qawa’idul Mutsla, Syaikh Utsaimin, hal. 120)

C. Allah sebagai ilah di bumi
Adapun ayat-ayat yang menyatakan Allah sebagai ilah di bumi maka bermakna diibadahi di langit dan di bumi. Seperti ayat Allah سبحانه وتعالى:
وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي اْلأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ. الزخرف: 84
Dan Dialah ilah di langit dan ilah di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (az-Zukhruf: 84)
Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya yang shahih, bahwa Qatadah berkata tentang ayat ini: “Dialah yang diibadahi di langit dan di bumi”.

Adapun ayat lainnya dalam surat al-An’aam: 3:
وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَوَاتِ وَفِي اْلأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ. الأنعام: 3
Dan Dialah Allah di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian lahirkan; dan mengetahui apa yang kalian usahakan. (al-An’aam: 3)
Sebagian para ulama membacanya dengan waqaf (berhenti) pada kalimat “fis samaawati’, sehingga bermakna “Dialah Allah yang di langit”. Kemudian memulai membaca dari ‘fil ardli ya’lamu sirrakum…’ sehingga bermakna “Dan Dia di bumi maha Mengetahui apa yang kamu usahakan”.

Sedangkan sebagian yang lain membacanya dengan waqaf pada kalimat ‘fil ardli’, sehingga bermakna “Dialah Allah di langit dan di bumi”. Maka dengan bacaan kedua ini kita katakan seperti pada ayat di atas, bahwa Allah adalah sesembahan yang diibadahi oleh penduduk langit dan penduduk bumi. Hal ini sama sekali tidak menunjukkan Dzat Allah menyatu dengan makhluk atau berada di bumi bersama makhluk-Nya.
Wallahu a’lam

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf, Edisi: 51/Th. II, 16 Muharram 1426 H/25 Februari 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Kebersamaan Allah Tidak Bertentangan dengan Ketinggian-Nya". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)

Kamis, 14 Agustus 2014

7 Amalan Rahasia Pengundang Pertolongan Allah SWT

Sebuah buku yang berjudul 7 Rahasia Pengundang Pertolongan Allah telah beredar. Buku ini adalah tulisan Fadhlan Al Ikhwani yang mengupas tentang amalan-amalan yang mesti dilakukan manusia agar pertolongan Allah menghampiri kita. Sudah ada resensi buku yang posting di bersamadakwah.  Berikut ini ulasannnya:

7 Amalan Rahasia Pengundang Pertolongan Allah SWT


Manusia adalah makhluk yang lemah. Allah Mahakuat dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan bagi seorang manusia kecuali karena Allah berkehendak. Sebab lemahnya itu, maka manusia teramat berhajat akan pertolongan dari Allah Yang Maha Menolong. Pertolongan Allah kepada seorang hamba adalah pangkal kemudahan dan kesuksesan. Sebaliknya, ketiadaan pertolongan Allah adalah pangkal musibah dan keterjerumusan.

Allah Maha Menolong. Pertolongan-Nya bisa dipanggil dan diundang dengan cara atau amal yang telah ditentukan-Nya. Sebab Dia Maha Mengurusi seluruh makhluk-Nya. Dia memenuhi seluruh kebutuhan hamba-Nya.

Sedikitnya, ada tujuh amalan yang bisa mengundang Pertolongan Allah. Tujuh amalan ini telah digaransi oleh al-Qur’an dan dibuktikan kemujarabannya oleh para Nabi dan Rasul panutan umat ini. Semuanya bisa dipraktekan sehingga pertolongan itu benar-benar mewujud dalam kehidupan seorang hamba.

Zikir dan doa adalah amalan pertama yang bisa mengundang Pertolongan-Nya. Keduanya bisa berasal dari al-Qur’an maupun sunnah Rasul-Nya. Zikir adalah sarana untuk mengingat Allah. Dengannya, Allah akan mengingat hamba yang berzikir itu. Kemudian namanya disebut-sebut dalam majlis malaikat di sisi-Nya. Doa merupakan senjata utama orang mukmin, pencegah datangnya musibah, mengubah takdir buruk, menenangkan hati, mengunduh pahala dan aneka keutamaan lainnya.

Amalan kedua adalah melazimkan istighfar. Sebagaimana difahami, istighfar merupakan sarana meminta ampun kepada Allah atas kesalahan dan dosa yang dilakukan seorang hamba. Siapa yang melazimkan istighfar, maka akan diberikan kepadanya rezeki yang melimpah ruah-tiada habisnya. Amalan ini merupakan solusi atas setiap masalah yang ada. Melazimkan istighfar juga bisa membuat seseorang terhidar dari dosa lisan. Melazimkan berarti menghiasi diri dengannya sepanjang waktu. Di pagi, siang, sore, malam dan sepanjang hari. Ketika berbaring, duduk, berdiri, berjalan dan di setiap aktivitas.

Selanjutnya adalah sabar dan shalat. Dua hal ini telah digaransi langsung oleh Allah melalui firman-Nya dalam surah al-Baqarah. Siapa yang sabar, maka Allah bersamanya. Siapa yang mendirikan shalat, maka dia membersihkan dirinya dari dosa. Dia juga menghubungkan dirinya yang lemah kepada Allah Yang Mahakuat. Shalat adalah mi’rojnya orang beriman.

Kedua amalan ini berat dilakukan, kecuali bagi orang yang khusyu’. Yakni orang yang yakin akan pertemuan dengan Rabbnya dan meyakini bahwa dia akan kembali kepada-Nya.

Amalan keempat yang bisa mengundang pertolongan Allah adalah dengan menolong agama-Nya. Siapa yang menolong agama-Nya, maka Dia akan menolong dan meneguhkan pijakannya. Amalan ini erat kaitannya dengan berjuang di segala lini. Khususnya jihad fi sabilillah. Siapa yang berjuang kemudian mati dalam keadaan syahid, maka surga menjadi jaminan baginya.

Selain amalan-amalan langit itu, pertolongan Allah juga bisa diundang dengan cara peduli kepada sesama. Baik kepada keluarga, sahabat, masyarakat, kaum miskin yang membutuhkan atau yang memang memiliki hak atas diri seorang hamba.

Mereka yang peduli kepada sesama akan mendapat pahala ganda di dunia dan akhirat. Di dunia berupa kemudahan hidup, mendapat pertolongan balasan dari sesama, dan dimuliakan oleh sesama sebab akhlak dan kemanfaatannya. Sedangkan di akhirat, setiap amalnya akan diganjari dengan pahala terbaik.

Dua amalan terakhir yang bisa mengundang pertolongan Allah adalah memelihara takwa dan tawakkal kepada Allah. Takwa bisa menjadi sebab diberikannya jalan keluar dari Allah atas setiap persoalan. Sedangkan tawakkal membuat seseorang dicukupi kebutuhannya oleh Allah Sang Mahakuasa.


Di dalam buku ini, ketujuh rahasia mengundang pertolongan Allah dikupas tuntas dengan dalil yang kuat dari al-Qur’an, disempurnakan dengan apa yang ada dalam sunnah Nabi. Di akhir buku juga disebutkan tentang bukti pertolongan Allah melalui kisah. Dilanjutkan dengan sepuluh cara yang bisa ditempuh untuk mempercepat datangnya pertolongan Allah. Selamat membaca dan mengundang Pertolongan-Nya.

Rabu, 18 Juni 2014

Ulama Al Jarh wa At Tadil Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Penulis: Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Abu Ghalib berkata: “Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah1 dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya.

كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ وَخَيْرَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ

“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!” kata Abu Umamah. “Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh,” lanjutnya.
Kata Abu Ghalib: “Ada apa denganmu hingga mengalir air matamu?”
“Karena kasihan terhadap mereka, dulunya mereka itu termasuk ahlul Islam,” jawab Abu Umamah.
Abu Ghalib berkata: Kami bertanya: “Apakah engkau mengatakan ‘mereka itu anjing-anjing neraka’ dengan pendapatmu sendiri atau perkataan yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam?”
“Kalau aku mengatakan dengan pendapatku sendiri, maka sungguh betapa beraninya aku. Tapi perkataan seperti itu aku dengar dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua tiga kali,” jawab Abu Umamah.
Hadits di atas diriwayatkan Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnad-nya (5/253). Guru kami Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah setelah membawakan hadits ini, beliau berkata: “Hadits ini jayyid, Abu Ghalib adalah rawi yang hasanul hadits.” (Al Jami’ush Shahih, 1/201)
Dalam riwayat At-Tirmidzi rahimahullah (Sunan At-Tirmidzi no. 4086), Abu Ghalib berkata: “Abu Umamah melihat kepala-kepala yang dipancangkan di atas tangga (masjid) Damaskus, ia pun berkata:

كِلاَبُ النَّارِ، شَرَّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ وَخَيْرَ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوْهُ

“Anjing-anjing neraka. Mereka ini sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang mereka bunuh.”
Kemudian Abu Umamah membaca ayat:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

“Pada hari yang di waktu itu ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada pula wajah yang hitam muram.” (Ali Imran: 106) Sampai akhir ayat.
Abu Ghalib berkata kepada Abu Umamah: “Apakah engkau mendengar perkataan seperti itu dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam?”
“Kalau aku tidak mendengarnya dari beliau, tidak hanya sekali, dua kali, atau tiga, empat kali –Abu Umamah sampai menyebut tujuh kali– niscaya aku tidak akan menyampaikannya kepada kalian.”
Hadits ini dihasankan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’us Shahih,1/201.

Ulama Al-Jarh wat Ta’dil Penjaga Agama Allah
Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: “Segala puji bagi Allah yang menjadikan adanya ahlul ilmi pada setiap zaman fatrah2 dari para rasul, yang mereka ini mengajak orang yang sesat kepada petunjuk dan bersabar atas gangguan yang mereka terima dari manusia. Mereka menghidupkan kitabullah yang telah ditinggalkan manusia dan menjadikan orang yang buta (akan kebenaran) dapat melihat dengan cahaya Allah Subhanahu wa Taala. Berapa banyak korban yang dibunuh oleh Iblis telah mereka hidupkan dan berapa banyak orang yang sesat lagi tidak mengerti jalan telah mereka bimbing. Alangkah bagusnya apa yang mereka perbuat terhadap manusia, namun alangkah jeleknya apa yang diperbuat manusia terhadap mereka. Mereka adalah orang-orang yang menolak penyimpangan orang-orang yang berbuat ghuluw terhadap kitabullah, demikian pula keyakinan orang-orang yang batil dan takwil orang-orang jahil, di mana orang-orang sesat ini telah mengikat bendera bid’ah dan melepaskan tali kekang fitnah. Orang-orang yang sesat ini berbeda-beda dalam memahami Kitabullah dan menyelisihi Kitabullah, akan tetapi mereka bersepakat meninggalkan Kitabullah. Mereka ini berucap terhadap Allah Subhanahu wa Taala, tentang Allah Subhanahu wa Taala dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang samar/ rancu dan bermaksud menipu orang-orang yang bodoh dari kalangan manusia dengan apa yang mereka samarkan. Kepada Allah semata kita berlindung dari fitnah orang-orang yang menyesatkan.” (Ar-Raddu ‘ala Az-Zanadiqah wal Jahmiyyah, hal. 1)
Berkaitan dengan ucapan Al-Imam Ahmad rahimahullah di atas, maka kita mengetahui bahwa ulama al-jarh wat ta’dil termasuk sisa ahlul ilmi yang Allah Subhanahu wa Taala tempatkan di umat ini untuk menjaga dan membela agamanya (Aimmatul Jarhi wat Ta’dil Hum Hummatud Din min Kaidil Mulhidin, wa Dhalalil Mubtadi’in wa Ifkil Kadzdzabin, Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali hafizhahullah, hal. 3)
Dengan keberadaan ulama ini, terbongkarlah kedok dan borok para penyesat umat, sehingga tidak tersisa satu tempat persembunyian pun bagi mereka melainkan telah diketahui dan telah diporak-porandakan. Sehingga umat tidak lagi mudah ditipu oleh mereka bahkan mereka dapat tertangkap basah oleh umat, dilucuti, dan dibuka aib yang mereka miliki.
Demikianlah gambaran ahlul ahwa (para pengekor hawa nafsu) dan ahlul bid‘ah yang telah dikritik pedas dan dibabat habis oleh ulama al-jarh wat ta’dil, sehingga tidak heran bila ahlul ahwa dan bid‘ah ini sangat antipati dan benci sampai ke ulu hati terhadap ulama al-jarh wat ta’dil yang ada di tengah umat ini. Berbagai tuduhan, ucapan kotor dan keji mereka lemparkan pada sang alim untuk menjatuhkan kehormatannya dan menjauhkan umat darinya. Namun pada akhirnya mereka harus gigit jari melihat hasil perjuangan mereka. Karena Allah Subhanahu wa Taala lah yang memberikan penjagaan terhadap agama-Nya. Dan Dia terus melahirkan dan memunculkan di tengah-tengah umat ini ulama yang membela agama-Nya, Dia terus menampilkan dan memenangkan orang-orang yang mengawal agama-Nya, karena memang Dialah Subhanahu wa Taala yang menghendaki agar Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang ditolong) ini tetap ada sampai saat berhembusnya angin sewangi misik yang tidak meninggalkan satu jiwa mukmin pun melainkan akan meninggal ketika menciumnya (hal ini terjadi menjelang datangnya hari kiamat3), sebagaimana disabdakan oleh Rasul yang mulia Shallallahu alaihi wa sallam:

لاَ تَزَالُ طاَئِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظاَهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku dalam keadaan dzahir/ menang di atas al haq, tidak memudharatkan mereka orang yang menyelisihi mereka. Demikian keadaan mereka sampai datang perkara Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 7311 dan Muslim no. 1920)
Dalam riwayat Al-Bukhari (Shahih Al-Bukhari no. 71) disebutkan dengan lafadz:

وَلَنْ تَزَالَ هذِهِ اْلأُمَّةُ قاَئِمَةً عَلَى أَمْرِ اللهِ لاَ يَضُّرُهُمْ مَنْ خاَلَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ

“Umat ini terus menerus akan menegakkan agama Allah4, tidak memudharatkan mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah.”
Ath-Thaifah Al-Manshurah, termasuk di dalamnya ulama al-jarh wat ta’dil tentunya sebagai orang yang masuk paling pertama karena mereka orang yang terdepan di dalam ilmu dan penjagaan/ pembelaan terhadap agama ini.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan bahwa Ath-Thaifah Al-Manshurah adalah ahlul ilmi. Sehingga beliau membuat bab tersendiri dalam masalah ini dalam kitab Shahih-nya, dengan judul bab Qaulin Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: “La Tazalu Thaifatun min Ummati Zhahirina ‘alal Haq wa Hum Ahlul Ilmi” (bab Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam: “Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku dalam keadaan zahir/ menang di atas al-haq” mereka adalah ahlul ilmi).
Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata: “Kalau mereka itu bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu siapa lagi mereka5”. Al-Qadhi ‘Iyyadh rahimahullah berkata: “Yang dimaksud Al-Imam Ahmad adalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan mereka yang meyakini madzhab ahlul hadits.” (Syarah Shahih Muslim, 13/66-67, Fathul Bari 1/206, 13/306).
Al-Hakim rahimahullah berkata: “Alangkah bagusnya penafsiran Al-Imam Ahmad bin Hambal terhadap kabar ini bahwa Ath-Thaifah Al-Manshurah yang selalu diberikan pertolongan oleh Allah Subhanahu wa Taala sampai hari kiamat adalah ashabul hadits (ahlul hadits). Karena siapa lagi manusia yang paling berhak untuk dimasukkan ke dalam thaifah ini terkecuali suatu kaum yang menempuh jalan orang-orang shalih dan mengikuti atsar salaf dari kalangan orang-orang terdahulu, mematahkan dan menghancurkan ahlul bid’ah serta orang-orang yang menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.” (Ma’rifah Ulumil Hadits, hal. 2) Al-Hakim juga berkata memuji ahlul hadits: “Akal-akal mereka digenangi kelezatan As Sunnah, jantung-jantung mereka yang dipenuhi keridhaan terhadap ahwal (segala keadaan) mereka makmurkan, mempelajari sunnah-sunnah adalah kebahagiaan mereka, majelis ilmu adalah kegembiraan mereka. Ahlus sunnah seluruhnya adalah saudara-saudara mereka sementara ahlul ilhad (orang yang menyimpang) dan ahlul bid`ah seluruhnya adalah musuh mereka.” (Ma’rifah Ulumil Hadits, hal. 3)
Guru kami Allamatul Muhaddits Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah berkata: “Hadits ini walaupun tidak secara lafadz menunjukkan terhadap perkataan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Ahmad, namun sesungguhnya Ahlul Hadits-lah yang seharusnya dimasukkan paling awal dalam thaifah ini karena kekokohan mereka di atas Al-Haq, pengabdian mereka dan pembelaan mereka terhadap Islam. Semoga Allah Subhanahu wa Taala membalas kebaikan mereka dengan kebaikan yang banyak atas apa yang mereka sumbangkan terhadap Islam dan muslimin.” (Al-Jami’us Shahih, 1/11)
Mereka pula yang dikatakan Al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat) sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang perpecahan umat ini menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu, ketika ditanyakan kepada beliau Shallallahu alaihi wa sallam:

مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قاَلَ: هُمُ الْجَماَعَةُ

“Siapa mereka wahai Rasulullah?” “Mereka adalah al-jamaah,” jawab beliau. (HR. Ahmad 4/102, Abu Dawud no. 3981, Ibnu Abi ‘Ashim no. 63, dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As Sunnah, hal. 49)
Sejak terjadinya fitnah dan bercabangnya kelompok hawa nafsu di tengah umat hingga mereka mencapai jumlah yang disebutkan6, thaifah ini terus menerus menegakkan perkara Allah Subhanahu wa Taala, mereka menyeru kepada al haq, menyebarkan dan menjaga ilmu-ilmu nubuwwah, membelanya dan menolak tipu daya orang-orang yang melakukan tipu daya, menolak kepercayaan orang-orang yang batil dan tahrif orang-orang bodoh. Tidak menggoyahkan mereka sama sekali gangguan, tipu daya orang-orang yang membuat makar, dan rencana jahat orang-orang yang berkuasa. Kesempitan, gangguan dan ujian yang mereka terima tidak akan menambah penderitaan bagi mereka terkecuali membuat mereka semakin kokoh di atas al haq dan akan membungkam kebatilan, sebagaimana ini terjadi pada masa Al-Imam Ahmad, Abdul Ghani Al-Maqdisi dan pada masa Ibnu Taimiyyah. (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawaif, hal. 18)
Sikap tegas terhadap ahlul bid‘ah ini merupakan sikap yang diwarisi dari As-Salafush Shalih. Dan As-Salafush Shalih menganggap sikap keras terhadap ahlul ahwa dan bid‘ah merupakan suatu kelebihan/ keutamaan dan merupakan sikap terpuji, di mana seseorang akan dipuji karenanya. Berapa banyak para imam Ahlus Sunnah, ketika disebutkan biografinya, ia dipuji karena sikap kerasnya terhadap ahlul ahwa dan bid’ah dan betapa kokohnya dia dalam memegang As Sunnah. Tidak ada yang mendorong mereka untuk bersikap yang demikian kecuali karena kecemburuan terhadap agama Allah ini dan dalam rangkaian nasehat kepada Allah, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin serta orang awamnya. Sebagaimana Ibnul Jauzi rahimahullah berkata tentang Al-Imam Ahmad rahimahullah: “Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hambal, karena sangat kuatnya beliau memegangi As Sunnah dan melarang/ mencegah dari kebid’ahan, beliau tidak segan membicarakan tentang (kejelekan) sekelompok orang-orang yang baik, apabila tampak di hadapannya bahwa mereka menyelisihi As Sunnah. Ucapan beliau yang demikian itu disampaikan kepada mereka tentunya dalam rangka nasehat untuk agama Allah ini.” (Ijma’ul Ulama ‘alal Hajri wat Tahdzir min Ahlil Ahwa‘, hal. 42)

Ahlul Hadits adalah Ulama Al-Jarh wat Ta’dil
Ulama al-jarh wat ta’dil adalah ulama ahlul hadits yang mengilmui dan memahami hadits, mengagungkan, dan menjaganya. Mereka adalah orang yang mengikuti para shahabat dan tabi’in dalam berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mereka kedepankan keduanya di atas setiap ucapan dan petunjuk, sama saja apakah hal itu dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, akhlak ataupun dalam masalah politik dan kemasyarakatan. Mereka sangat kokoh di dalam pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Taala dan diwahyukan-Nya kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Mereka menegakkan dakwah dengan segala kesungguhan, kejujuran dan ketegaran. Merekalah pembawa ilmu nubuwwah. Dengan ilmu tersebut, mereka sangat menentang tahrif orang-orang yang ghuluw, kepercayaan orang-orang yang batil dan takwil orang-orang jahil. Merekalah orang-orang yang selalu berdiri mengintai setiap kelompok/ golongan yang menentang manhaj islami seperti Jahmiyyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rawafidh, Murji`ah, Qadariyyah dan setiap yang menyimpang dari manhaj Allah dan mengikuti hawa nafsunya pada setiap zaman dan tempat. Celaan orang-orang yang mencerca sama sekali tidak menyurutkan langkah mereka dalam membela agama Allah Subhanahu wa Taala.” (Aimmatul Jarhi wat Ta’dil, hal. 4)
Merekalah yang meletakkan firman Allah Subhanahu wa Taala ini di hadapan mata mereka:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعاً وَلاَ تَفَرَّقُوْا

“Berpegangteguhlah kalian semuanya dengan tali Allah dan janganlah kalian berpecah-belah.” (Ali ‘Imran: 103)
Dan firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخاَلِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

“Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyelisihi perkara/ perintah Rasulullah untuk ditimpakan kepada mereka fitnah atau ditimpakan pada mereka azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
Sehingga mereka adalah orang yang paling jauh dari menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan paling jauh dari fitnah. Merekalah yang menjadikan firman Allah Subhanahu wa Taala sebagai dustur mereka:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْماَ شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِيْ أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْماً

“Maka sekali-kali tidak demi Rabbmu, mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam pertikaian yang terjadi di antara mereka, kemudian mereka tidak dapatkan di dalam jiwa mereka rasa berat terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka tunduk dengan setunduk-tunduknya.” (An-Nisa`: 65)
Mereka memuliakan nash-nash Al Qur`an dan As Sunnah dengan sebenar-benar pemuliaan, mengagungkannya dengan sebesar-besar pengagungan dan mengedepankannya di atas ucapan manusia seluruhnya. Mereka berhukum kepada nash-nash tersebut dalam segala sesuatu dengan rasa ridha yang sempurna dan dada yang lapang, tanpa rasa sempit dan berat. Mereka tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya dengan ketundukan yang sempurna dalam aqidah mereka, ibadah dan muamalah mereka. Kepada merekalah pantas ditujukan firman Allah Subhanahu wa Taala:

إِنَّماَ كاَنَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوْا إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُوْلُوْا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hanyalah ucapan kaum mukminin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar diputuskan perkara di antara mereka, mereka pun menyatakan ‘kami mendengar dan kami taat’ , mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51) [Aimmatul Jarhi wat Ta’dil, hal. 5]
Di antara nama ulama ahlul hadits yang bisa kita sebutkan di sini, di antaranya:
- Semua shahabat Nabi, dengan pimpinan mereka Al-Khulafa`ur Rasyidin
- Tokoh tabi’in (murid para shahabat): Sa’id ibnul Musayyab, ‘Urwah bin Az-Zubair, Ali bin Al-Husain Zainul Abidin, Muhammad ibnul Hanafiyyah, Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud, Salim bin Abdillah bin ‘Umar, Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq, Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Sirin, ‘Umar bin Abdil Aziz, dan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri.
- Atba‘ut tabi’in (murid para tabi’in), paling terdepan dari mereka adalah Malik, Al-Auza’i, Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Isma’il bin ‘Ulayyah dan Al-Laits bin Sa’ad.
- Murid-murid atba‘ut tabi’in, paling utama adalah Abdullah ibnul Mubarak, Waki’ ibnul Jarrah, Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, ‘Affan bin Muslim.
- Mereka yang berguru kepada murid-murid atba‘ut tabi’in, yang terdepan adalah Al-Imam Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in dan ‘Ali ibnul Madini.
- Murid-murid mereka yang masuk dalam kelompok di atas, di antaranya Al-Bukhari, Muslim, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasai.
- Generasi berikutnya yang berjalan seperti jalan mereka, di antaranya Ibnu Jarir, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraquthni, Al-Khathib Al-Baghdadi, Ibnu Abdil Bar An-Namri, Abdul Ghani Al-Maqdisi, Ibnu Qudamah, Ibnu Shalah, Ibnu Taimiyyah, Al-Mizzi, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir7 dan para imam setelah mereka seperti Ash-Shan’ani, Asy-Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab serta kalangan imam dari anak-anak dan cucunya.
Mereka memiliki banyak sekali karya tulis –dengan jumlah yang tak terhitung– yang berisi bantahan terhadap ahlul bid’ah wa ahwa dan kitab-kitab al-jarh wat ta’dil serta kitab al-jarh secara khusus yang penuh dengan keterangan tentang keadaan ahlul bid’ah seperti kitab Ar-Rad ‘alal Jahmiyyah karya Al-Imam Ahmad, Ar-Rad ‘alal Jahmiyyah dan Ar-Rad ‘ala Bisyr Al-Marisi karya ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darimi, kitab-kitab Al-Imam Ahmad dalam masalah rijal, kitab-kitab Ibnu Ma’in, kitab-kitab Al-Bukhari, Al-Al-jarh wat tadil karya Ibnu Abi Hatim, kitab-kitab An-Nasa`i dan Ad-Daraquthni, Al-Kamil karya Ibnu ‘Adi, kitab Al-Majruhin karya Ibnu Hibban, Ma’rifatur Rijal karya Jauzajani, Muqaddimah Al-Madkhal karya Al-Hakim, Muqaddimah Al-Mustakhraj karya Abu Nu’aim dan selainnya dari kitab-kitab rijal sebagaimana mereka memiliki banyak karya tulis ilmiah dalam perkara aqidah/ manhaj seperti kitab As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, Asy-Syari’ah karya Al-Ajurri, Al-Iman karya Ibnu Mandah, At-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, Syarah Ushulus Sunnah karya Al-Lalikai, serta kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya dan lain-lainnya, yang tidak bisa kami sebutkan semuanya di sini.

Kritikan Ulama Al-Jarh wa At-Ta’dil Penjagaan terhadap Agama Allah
Apa yang dilakukan oleh ulama al-jarh wat tadil berupa kritikan dan bantahan kepada ahlul bid’ah dan ahwa bukanlah perkara yang mereka ada-adakan atau mereka buat-buat sendiri tanpa pendahulu yang shalih. Tidak pula menunjukkan kotor dan jahatnya hati, maksud dan lisan mereka, sebagaimana hal ini banyak disebarkan dan diserukan oleh du’atul makirin wal ahdzabul hizbiyyin (para penyeru dan pembuat makar serta para da’i hizbiyyun) yang sangat khawatir dan takut dengan kritikan karena akan mematikan mereka dan membinasakan langkah dan keinginan mereka yang busuk. Akan tetapi apa yang mereka serukan sama sekali tidak demikian, wallahi. Bahkan jauh sebelum ulama al-jarh wat ta’dil, hal ini telah dilakukan oleh sebaik-baik manusia setelah para nabi dan rasul, yaitu para shahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ash-shadiqinash shalihin, dan di antara mereka adalah Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu anhu sebagaimana ditunjukkan dalam hadits dan riwayat di atas. Ketika Abu Umamah melihat kepala orang-orang yang terbunuh dari kelompok ahlul bid’ah yang bernama Khawarij yang dipancangkan di atas tangga masjid Damaskus, ia pun mengatakan: “Anjing-anjing neraka!” (Tuhfatul Ahwadzi, 8/279). Ketika melemparkan gelaran jelek kepada pemilik kepala-kepala yang telah terpenggal tersebut, beliau tidak mencukupkan sekali, bahkan beliau mengulangnya sampai tiga kali.
Kemudian, apabila ini adalah perkara yang mereka ada-adakan atau mereka buat-buat sendiri tanpa pendahulu yang shalih dan menunjukkan kotor dan jahatnya hati, maksud dan lisan mereka, apakah boleh dan diperkenankan bagi kita untuk mengatakan shahabat ini mulutnya kotor, jahat hati, maksud, dan lisannya? Na’udzubillah min dzalik, semoga Allah menjaga hati, lisan dan perbuatan kita dari mencerca shahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam!
Apa yang dilakukan oleh Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu anhu ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam murabbina wa mu’allimuna. Beliaulah yang menggelari Khawarij dengan anjing-anjing neraka, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Umamah: “Perkataan seperti itu aku dengar dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya dua, tiga kali!” Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan sampai tujuh kali.

لَقَدْ كاَنَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كاَنَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang-orang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Bila demikian adanya, berarti apa yang dilakukan oleh ulama al-jarh wat ta’dil ini telah dicontohkan oleh sebaik-baik hamba Allah yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau menjarh, mengkritik, dan mentahdzir orang yang pantas mendapatkannya.
Demikian pula halnya dengan anak paman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, orang yang didoakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan kefakihan di dalam agama Allah Subhanahu wa Taala dan ahli di dalam menafsirkan Al Qur`an, imam para mufassirin, Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma ketika menjarh kelompok bid’ah yang bernama Qadariyyah.
‘Atha rahimahullah berkata: “Aku mendatangi Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma yang sedang berada di sumur Zam-zam dalam keadaan bagian bawah pakaiannya basah terkena air.
“Telah muncul orang-orang yang membicarakan (yakni mengingkari -ed) takdir (Qadariyah, pen.),” kataku kepada Ibnu Abbas.
“Apakah mereka benar telah melakukannya?” tanya Ibnu ‘Abbas.
“Iya,” jawabku.
“Demi Allah, tidaklah turun ayat:

ذُوْقُوْا مَسَّ سَقَرَ. إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْناَهُ بِقَدَرٍ

“Rasakanlah oleh kalian azab neraka Saqar. Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan ketetapan takdir.” (Al-Qamar: 48-49) melainkan ditujukan kepada mereka. Mereka itu adalah sejelek-jelek umat ini, jangan kalian jenguk orang yang sakit dari kalangan mereka, jangan kalian shalati orang yang mati dari kalangan mereka. Bila aku melihat salah seorang dari mereka, niscaya aku akan mencungkil kedua matanya dengan dua jariku ini.” (Syarhus Sunnah, Al-Lalikai 4/712, As-Sunanul Kubra, Al-Baihaqi 10/205, sebagaimana dinukil dalam Ijma’ul Ulama ‘alal Hajri wat Tahdzir min Ahlil Ahwa`, hal. 23)
Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah berkata: “Membantah ahlul bid’ah, men-jarh mereka dan memperingatkan (tahdzir) manusia dari mereka merupakan perkara pokok dalam Islam, karena hal ini termasuk bab amar ma’ruf nahi mungkar yang paling penting dan juga termasuk bab nasihat yang terpenting kepada Islam dan muslimin. Orang yang pertama kali men-jarh dan men-tahdzir mereka yang menyimpang adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, di mana beliau mentahdzir Khawarij dalam beberapa hadits dan menyifati mereka sebagai sejelek-sejelek makhluk, beliau Shallallahu alaihi wa sallam mencela Dzul Khuwaishirah (nenek moyang Khawarij) dan dalil-dalil yang menunjukkan tentang perkara ini banyak sekali.” (Aimmatul Hadits wa Man Sara ‘ala Nahjihim Hum A’lamun Nasi bi Ahlil Ahwa wal Bida’ wa Masyru’iyyatul Jarh wat Ta’dil Minal Akfa’ Lam Tanqathi’, hal. 2)
Lebih dari itu, mencela dan memberi gelaran buruk kepada orang yang menyimpang dari kebenaran telah pula dinyatakan oleh Dzat yang Maha Tinggi dan Maha Suci keberadaan-Nya dari segala makhluk-Nya, seperti dalam ayat-ayat berikut ini:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْناَهُ آياَتِناَ فَانْسَلَخَ مِنْهاَ فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطاَنُ فَكاَنَ مِنَ الْغاَوِيْنَ. وَلَوْ شِئْناَ لَرَفَعْناَهُ بِهاَ وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى اْلأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآياَتِناَ فاَقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab). Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu ia diikuti oleh syaitan sampai dia tergoda. Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka permisalan dirinya seperti anjing, bila engkau menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan bila engkau membiarkannya, anjing itu tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 175-176)

وَلَقَدْ ذَرَأْناَ لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ لَهُمْ قُلُوْبٌ لاَ يَفْقَهُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُوْنَ بِهاَ وَلَهُمْ آذَانٌ لاَ يَسْمَعُوْنَ بِهاَ أُولَئِكَ كَاْلأَنْعاَمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغاَفِلُوْنَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami. Dan mereka memiliki mata namun tidak dipergunakannya untuk melihat. Dan mereka punya telinga tetapi tidak diperguna-kannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih bodoh lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ أَوْ يَعْقِلُوْنَ إِنْ هُمْ إِلاَّ كَاْلأَنْعاَمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيْلاً

“Apakah engkau (Muhammad) mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat jalannya daripada binatang ternak itu.” (Al-Furqan: 44)
Sehingga kita katakan di sini, orang-orang yang mengingkari perkara ini adalah orang yang tidak faham sama sekali apa yang dia baca di dalam Al Qur‘an yang dia baca setiap harinya dan di dalam hadits-hadits yang shahih atau memang dia tidak pernah membacanya sehingga dengan kejahilannya menjadikannya jahil murakkab? Wallahul musta’an.
Para imam al-jarh wat tadil tidak hanya memberikan jarh kepada ahlul bid’ah wa ahwa` namun mereka juga menjaga agama ini dengan menjaga hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari pemalsuan dan kedustaan, membicarakan perawi-perawi hadits dan menjelaskan keadaan mereka, sehingga bila perawi itu lemah terlebih seorang pendusta, maka mereka membicarakannya, mengkritiknya dan menolak haditsnya. Namun apabila dipelajari dan diteliti, para perawi keadaanya tidak demikian, bahkan merupakan rawi yang pantas diterima periwayatannya, maka diterima haditsnya dan periwayatannya. Di antara kritikan mereka:
1. Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata tentang seorang perawi hadits yang bernama Talid bin Sulaiman Al-Muharibi: “Dia tidak teranggap, dia seorang pendusta yang mencerca ‘Utsman radhiallahu anhu. Dan setiap orang yang mencela ‘Utsman atau Thalhah atau salah seorang dari shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka dia dajjal, tidak ditulis haditsnya, dan dia akan memperoleh laknat Allah, para malaikat dan manusia.” (At-Tarikh, 2670)
Al-Hakim rahimahullah berkata: “Madzhabnya jelek, mungkarul hadits.” (Al-Madkhal, 1/174)
2. Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berkata: “Negeri Khurasan mengeluarkan tiga orang yang tidak ada tandingannya dalam kebid’ahan dan kedustaan yaitu Jahm bin Shafwan, ‘Umar bin Shabh, dan Muqatil bin Sulaiman.”
3. Ahmad ibnu Hanbal rahimahullah berkata: “Habib bin Abi Hilal matruk (ditinggalkan).” (Bahrud Dam hal. 105). Demikian juga Al-Imam Ahmad berkata tentang Al-Hasan ibnu Dzakwan: “Hadits-haditsnya batil.” (Bahrud Dam hal. 114)
4. Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: “Dawud ibnu Al-Muhabbir mungkarul hadits, keberadaannya seakan-akan tidak teranggap/ ternilai.” (Adh-Dhu’afa` Ash-Shagir hal. 18. Al-Hafidz rahimahullah berkata tentangnya: “Matruk, dan kebanyakan kitabul ‘aql yang dia tulis hadits-haditsnya palsu.” (At-Taqrib hal.140)
5. Al-Imam An-Nasai rahimahullah mengatakan tentang Asy’ats ibnu Sa’id As-Samman: “Tidak punya nilai.” (Adh-Dhua’fa` wal Matrukin hal.56)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Satu kelompok dari Khawarij yang dinisbatkan kepada Nafi’ bin Al-Azraq, salah seorang tokoh Khawarij.
2 Zaman terputusnya wahyu dan tidak adanya rasul yang diutus di tengah umat
3 Kiamat tidak akan ditimpakan kecuali pada sejelek-jelek makhluk. Adapun orang yang memiliki iman semuanya telah meninggal ketika mencium angin sewangi misik yang berhembus menjelang datangnya hari kiamat (Fathul Bari, 1/206).
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُمُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْياَءُ

“Termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang hari kiamat menemui mereka dalam keadaan mereka masih hidup.” (HR. Al-Bukhari no. 7067)
Dalam riwayat Muslim (no. 2949) disebutkan dengan lafadz:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إلاَّ عَلىَ شِرَارِ النَّاسِ

“Tidak akan datang hari kiamat kecuali (menimpa) atas sejelek-sejelek manusia.”
4 Sebagian umat ini akan tetap di atas al-haq selama-lamanya (Fathul Bari, 1/206)
5 Asy-Syaikh Rabi‘ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah berkata: “Imam-imam Islam seperti Ibnul Mubarak, Yazid bin Harun, Ibnul Madini, Ahmad bin Hambal, Al-Bukhari dan para imam yang lain di antaranya Al-Khathib Al-Baghdadi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Rajab telah menafsirkan Al-Firqatun Najiyah dan Ath-Thaifah Al-Manshurah ini adalah ahlul hadits dan orang yang bermadzhab ahlul hadits.” (Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Naqdir Rijal wal Kutub wath Thawa`if, hal. 18)
6 Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَفَرَّقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِي عَلىَ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً

“Yahudi akan terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij As Sunnah, hal. 50)
7 Dan kami tambahkan ulama ahlul hadits dan para imam al-jarh wat ta’dil pada zaman ini baik itu yang masih hidup –mudah-mudahan Allah mengokohkan mereka dan diberikan umur yang panjang di dalam pembelaan agama-Nya– ataupun yang telah Allah panggil disisi-Nya, semoga Allah merahmati mereka semuanya dengan rahmat-Nya yang lapang– sesuai yang kami ketahui dan penyebutan kami disini bukan sebagai pembatasan, di antaranya:
Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdurahman Al-Mu’allimi Al-Yamani, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Ahmad Syakir, Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh, Al-’Allamatusy Syaikh Abdullah Ibnu Humaid, Asy-Syaikh Al-Muhaddits wal Mufassir Muhammad Amin Asy-Syinqithi, Asy-Syaikh Al-’Allamatu Abdurrahman As-Sa’di, Syaikhul Islam Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Imamul Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Asy-Syaikh Al-Mujahid As-Salafi Hamud Tuwaijiri, ‘Allamatud Dunya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al-’Allamatusy Syaikh Muhammad Aman Al-Jami, Guru kami Al-Muhaddits Imam Ahlis Sunnah fil Yaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, Al-’Allamah Shahibul Manhaj Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Asy-Syaikh Al-Muhadditsul Faqih Ahmad bin Yahya An-Najmi, Al-’Allamah Asy-Syaikh Al-Mujahid Zaid bin Muhammad Al-Madkhali, Imam Al-Jarh wat Tadil Syaikhul Muhaddits Rabi’ Ibnu Hadi Al-Madkhali, Al-’Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-’Abbad, Mufti Mamlakah As-Su’udiyah ‘Allamatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alusy Syaikh, Al-Ma’ali Al-’Allamah Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh, Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, Shahibul Manhajis salim Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri, dan ulama ahlil hadits lainnya.


Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com

Minggu, 15 Juni 2014

Bisakah Allah dapat dilihat di dunia

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed

Disamping adanya kelompok-kelompok yang mengingkari akan dapat dilihatnya Allah pada hari kiamat oleh penghuni surga, ada pula kelompok yang berpendapat sebaliknya. Mereka berpendapat bahwa Allah bisa dilihat di dunia ini oleh para auliya (para wali). Pendapat seperti ini diyakini oleh sebagian kaum muslimin bahwa Syaikh Abdul Qadir Jaelani telah melihat Allah di dunia ini, sebagaimana terdapat dalam buku manaqib Abdul Qadir Jaelani yang sesat dan menyesatkan.

Padahal dalil berupa ayat Al-Quran yang telah dibahas pada edisi yang lalu –yang dijadikan dalil oleh mu’tazilah untuk menolak hadits ru’yah—sesungguhnya merupakan dalil yang menunjukkan tidak mungkinnya Allah dilihat di dunia ini. Ayat tersebut yaitu:

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا... ]الأعراف: 143[

Berkata Musa: "Ya Rabb-ku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu". Allah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap berada di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Rabb-nya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh.. (al-A’raaf: 143)

Ayat ini menunjukkan bahwa gunung-pun hancur luluh ketika Allah menampakkan diri kepadanya, apalagi manusia yang sangat lemah. Dan kepada Musa عليه السلام –hamba-Nya yang mulia dan Allah berbicara langsung kepadanya-- Allah katakan: “Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku”, yakni di dunia ini. Apalagi orang-orang yang selain para nabi.

Berkata Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi: “Telah sepakat seluruh umat bahwa tidak ada seorangpun yang dapat melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia ini dan tidak ada perselisihan di kalangan mereka, kecuali tentang Nabi Kita صلى الله عليه وسلم”. (Syarh Aqidah ath-Thahawiyah: 196)

Apakah Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat Allah ketika mi’raj?

Sebagian shahabat seperti Ibnu Abbas رضي الله عنهما, beliau berpendapat bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melihat Rabb-nya dengan mata kepalanya. Namun riwayat-riwayat dari atsar ini sebagiannya dlaif (lemah), seperti riwayat yang telah dikeluarkan oleh Ibnu Huzaimah dalam Kitab Tauhid dengan lafadz yang mudtharib (goncang) secara mauquf terhadap ibnu Abbas. Pada satu riwayat disebutkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat dengan mata kepalanya, sedangkan pada riwayat lainnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat Rabb-nya dengan hatinya, seperti yang diriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabbah. Dan banyak lagi lafadz-lafadz lainnya yang diriwayatkan dan bersumber dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما.

Dalam riwayat dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما di atas juga tidak disebutkan dengan tegas bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat Allah dengan mata kepalanya. Sebagian riwayat itu hanya menyatakan beliau صلى الله عليه وسلم “melihat dalam hatinya”, “melihat cahaya”, “melihat dalam mimpinya” dan lain-lain.

Di samping itu, mereka yang berpendapat bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah melihat Allah ketika mi’raj, berhujah dengan ayat Allah dalam surat atTak-wir:
وَلَقَدْ رَآهُ بِاْلأُفُقِ الْمُبِينِ. ]التكوير:23[
Dan sesungguhnya Muhammad itu melihatnya di ufuk yang terang. (at-Tak-wir: 23)

Dan ayat Allah:
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. ]النجم: 13-14[
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. (an-Najm: 62-63)

Bantahan bagi pendapat di atas

Sebagian para shahabat lainnya seperti Aisyah, Ibnu Mas’ud, dan Abu Hurairah; demikian pula sebagian ashhabul hadits dan para fuqaha lainnya, mereka berpendapat bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak melihat Rabb-Nya ketika beliau صلى الله عليه وسلم mi’raj. Hal itu sebagaimana telah diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها, ketika beliau ditanya oleh Masyruq: ”Apakah Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat Rabb-Nya?” Aisyah رضي الله عنها menjawab:

مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللَّهِ الْفِرْيَةَ. قَالَ وَكُنْتُ مُتَّكِئًا فَجَلَسْتُ فَقُلْتُ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْظِرِينِي وَلاَ تَعْجَلِينِي أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
]وَلَقَدْ رَآهُ بِاْلأُفُقِ الْمُبِينِ[ ]وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى[ فَقَالَتْ: أَنَا أَوَّلُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ سَأَلَ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ: إِنَّمَا هُوَ جِبْرِيلُ لَمْ أَرَهُ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيْهَا غَيْرَ هَاتَيْنِ الْمَرَّتَيْنِ رَأَيْتُهُ مُنْهَبِطًا مِنَ السَّمَاءِ سَادًّا عِظَمُ خَلْقِهِ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ. فَقَالَتْ: أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ ]لاَ تُدْرِكُهُ اْلأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ اْلأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ[ أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ ]وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ[(متفق عليه)

Barangsiapa yang menyangka bahwa Muhammad صلى الله عليه وسلم melihat Rabb-nya, maka dia telah membikin kedustaan besar kepada Allah. Aku (Masyruq) yang semula berbaring, kemudian terduduk dan berkata: “Ya Umul mukminin, sebentar dulu! jangan terburu-buru! Bukankah Allah telah berfirman: “[وَلَقَدْ رَآهُ بِاْلأُفُقِ الْمُبِينِ] [ وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى] (“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihatnya di ufuk yang terang”. (“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha”. Aisyah رضي الله عنها menjawab: “Aku adalah orang pertama dari umat ini yang bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentangnya. Maka beliau menjawab: “Itu adalah Jibril, aku tidak pernah melihatnya dalam bentuk aslinya, yang ia diciptakan atasnya. Aku melihatnya turun dari langit dan menutupi antara langit dan bumi karena besarnya (bentuknya)”. Kemudian Aisyah berkata: “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah berfirman:

[لاَ تُدْرِكُهُ اْلأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ اْلأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ]?

(“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”). Bukankah engkau pernah mendengar

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ.

(“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana). (HR. Bukhari-Muslim)

Adapun riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat cahaya dinukil juga dalam kitab shahih muslim sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Syafiq dari Abu Dzar:

ثُمَّ قُلْتُ ِلأَبِي ذَرٍّ لَوْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسَأَلْتُهُ. فَقَالَ: عَنْ أَيِّ شَيْءٍ كُنْتَ تَسْأَلُهُ؟ قَالَ: كُنْتُ أَسْأَلُهُ: هَلْ رَأَيْتَ رَبُّكَ؟ قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ قَدْ سَأَلْتُ فَقَالَ: ((رَأَيْتُ نُوْرًا)). (رواه مسلم)

Dia berkata kepada Abu Dzar: “Kalau aku sempat bertemu Rasulullah صلى الله عليه وسلم sungguh aku akan bertanya. Abu Dzar balik bertanya: “Apa yang akan kau tanyakan?”. Aku akan bertanya: “Apakah beliau melihat rabb-Nya?” Maka Abu Dzar pun berkata; “Sungguh aku telah bertanya kepada beliau صلى الله عليه وسلم. Beliau menjawab: “Aku melihat cahaya”. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan dari Abu Dzar:

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهَ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟ قَال: (نُوْرٌ أَنَّى أَرَاهُ)

Aku bertanya kepada Rasulllah صلى الله عليه وسلم : “Apakah engkau melihat Rabb-mu? Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Cahaya, bagaimana aku melihatnya?”. (HR. Muslim)
Disebutkan oleh para ulama bahwa yang dilihat oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah hijab-Nya, karena hijabnya adalah cahaya sebagaimana diriwayatkan dari dari Abu Musa al-‘Asy’ari:

قَامَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهِِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفَضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ. يَرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلَ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلَ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّوْرُ. (رواه مسلم)

Berdiri Rasulullah صلى الله عليه وسلم di depan kami dengan menyampaikan lima kalimat. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak layak bagi-Nya tidur, menurunkan timbangan dan mengangkatnya, diangkat kepadanya amalan malam sebelum amalan siang, dan amalan siang sebelum amalan malam, dan hijab-Nya adalah cahaya. (HR. Muslim)

Ibnu Hajar al-Atsqalani dalam Fathul Bary jilid 8/708, setelah menyebutkan pendapat-pendapat yang menyatakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat Rabb-nya dan pendapat yang sebaliknya, berkata: “Hadits-hadits dari Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat Rabb-nya, ada yang diriwayatkan secara muqayyad (terikat), yakni melihat dengan hatinya; dan ada pula yang diriwayatkan secara mutlak. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk membawa hadits-hadits yang mutlak tersebut kepada hadits-hadits yang muqayyad”.

Kemudian Ibnu Hajar رحمه الله mengakurkan (menjama’) antara kedua pendapat yang kelihatannya saling bertentangan tersebut dengan menyatakan: “Dengan ini kita bisa mengumpulkan antara pendapat Ibnu Abbas yang menetapkan (melihatnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم terhadap Allah –pent.) dengan pendapat Aisyah yang justru mengingkarinya. Yaitu dengan membawa pengingkaran Aisyah kepada penglihatan dengan mata, adapun penetapan Ibnu Abbas adalah penglihatan dengan hatinya”.

Berkata Dr. Ali bin Muhammad
bin Nashir al-Faqihi: “Jama’ dari Ibnu Hajar ini sangat bagus dan dengan ini kita dapat mengambil seluruh riwayat-riwayat tersebut”. (Al-Iman, karya Ibnu Mandah, tahqiq Dr. Ali bin Muhammad bin Nashir al-Faqihi hal. 24).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله: “Tidaklah ucapan Ibnu Abbas tentang melihatnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertentangan dengan hadits Aisyah”. Kemudian beliau رحمه الله meriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم per-nah malihat Rabb-nya dalam tidurnya. (Zaadul Ma’ad, juz 3 hal. 37)

Bahkan disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’adnya bahwa Utsman bin Sa’id ad-Darimi telah menghikayatkan kesepakatan para sahabat tentang tidak melihatnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم terhadap Rabb-nya. (Zaadul Ma’ad, juz 3 hal. 37)
Yakni dengan mata kepala beliau صلى الله عليه وسلم dalam keadaan sadar. Adapun riwayat-riwayat yang menyatakan beliau صلى الله عليه وسلم melihat-Nya adalah dalam keadaan tidur atau dengan hatinya.

Dengan demikian, jika kita memperhatikan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri tidak melihat Rabb-nya dengan matanya secara sadar di dunia ini dalam riwayat-riwayat yang shahih, maka bagaimana mungkin bagi orang-orang selain beliau dapat melihat-Nya dengan mata kepalanya ?

Wallahu a’lam

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 48/Th. II, 24 Dzulhijjah 1425 H/4 Februari 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Tak Ada yang melihat Allah di dunia". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)

Kamis, 12 Juni 2014

QALBU MENGERAS KARENA JAUH DARI ALLAH

Penulis: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22)

Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. An-Naar (neraka) adalah diciptakan untuk melunakkan qalbu yang keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah adalah qalbu yang keras, dan jika qalbu sudah keras mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.

Sebagaimana jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian pula qalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan padanya nasehat.

Barangsiapa hendak mensucikan qalbunya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding keinginan dan nafsu jiwanya.

Karena qalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah subhanahu wa ta’ala, sekadar tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya.

Banyak orang menyibukkan qalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dan negeri akhirat tentu qalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang nampak ini, dan ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah. Jika qalbu disuapi dengan berdzikir dan disirami dengan berfikir serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.

Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka menghidupkan qalbu dan mematikan hawa nafsunya.

Adapun mereka yang membunuh qalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, maka tak akan muncul hikmah dari lisannya.

Rapuhnya qalbu adalah karena lalai dan merasa aman, sedang makmurnya qalbu karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dzikir. Maka jika sebuah qalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat. Sebaliknya jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.

Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa ta’ala adalah angin semilir yang menerpa qalbu, membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapapun yang menempatkan qalbunya disisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tentram. Dan siapapun yang melepaskan qalbunya di antara manusia, ia akan semakin gundah gulana.

Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam qalbu yang mencintai dunia kecuali seperti masuknya unta ke lubang jarum (sesuatu yang sangat mustahil).

Jika Allah subhanahu wa ta’ala cinta kepada seorang hamba, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya, dan Ia akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah. Lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.

Qalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Qalbu pun bisa berkarat sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Qalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa. Qalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, cinta, tawakkal, bertaubat dan berkhidmat untuk-Nya.

(diterjemahkan dan diringkas dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim rahimahullah hal 111-112)

Copas dari : www.asysyariah.com versi CHM