Tampilkan postingan dengan label rahasia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rahasia. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Agustus 2014

Rahasia Di Balik Qira’ah Sab’ah


Kitab Faidh al-Barakat Karangan Mbah Arwani Kudus

Sebab-sebab Timbulnya Perbedaan Qira‘at
Tidak dapat dipungkiri, kemunculan qira‘at yang beraneka madzhab ini dise­babkan oleh berbagai hal.
Pertama, perbedaan qira‘at yang dibaca Nabi da­lam mengajarkan Al-Qur’an kepada para sahabat. Nabi menggunakan beberapa versi qira‘at. Misalnya Nabi pernah mem­baca surah As-Sajdah ayat 17 dengan cara ber­beda. Yakni, pada kata qurrah, Nabi membacanya dengan ta‘ biasa, sedang­kan pada kesempatan lainnya dengan ta‘marbuthah (huruf ta bulat dan bertitik dua).
Kedua, pengakuan Nabi atas berba­gai qira‘at yang berlaku di kalangan kaum muslimin waktu itu. Ini menyangkut dialek di antara mereka dalam mengucapkan kata-kata di dalam Al-Qur’an. Contohnya ketika seorang sahabat dari suku Hudzail membaca di hadapan Ra­sul “atta hin”, padahal beliau menghendaki bacaan “hatta hin”. Keluasan Nabi dalam menerima hal ini difirmankan Allah SWT, “Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, su­paya ia dapat memberi penjelasan de­ngan terang kepada mereka.” (QS Ibrahim: 4).
Ketiga, ada riwayat dari para sahabat Nabi menyangkut berbagai versi qira‘at yang ada atau perbedaan riwayat dari para sahabat Nabi menyangkut ayat-ayat tertentu.
Keempat, adanya lahjah atau dialek kebahasaan di kalangan bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an.
Kelima, perbedaan syakal, harakah, atau huruf. Contohnya pada surah Al-Baqarah ayat 222. Kata “yath-hurna” bisa dibaca “yathahharna”. Jika dibaca de­ngan qira`at pertama, berarti, “dan ja­ngan­lah kamu mendekati mereka (istri-istri­mu) sampai mereka suci (berhenti dari haidh tanpa mandi terlebih dahulu)”. Se­dangkan jika dengan qira`at kedua, ber­arti, “dan janganlah kamu mendekati me­reka (istri-istrimu) sampai mereka bersuci (berhenti dari haidh dan telah mandi wajib terlebih dahulu)”.
Qira‘at ini ditetapkan berdasarkan sanad-sanadnya yang sampai kepada Rasulullah SAW. Periode qurra‘ (ahli atau imam qira‘at) yang mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada orang-orang menurut me­reka masing-masing berpedoman ke­pada masa para sahabat. Di antara para sahabat yang terkenal mengajarkan qira‘at  ialah Ubay, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari, dan lain-lain. Dari mereka itulah sebagian be­sar sahabat dan tabi’in di berbagai negeri belajar qira‘at. Dan mereka semua pun bersandar kepada Rasulullah SAW.
Ilmu qira‘at sendiri adalah ilmu yang lahir pada masa yang sebelumnya tidak pernah disebut-sebut. Orang yang per­tama menyusunnya adalah Abi Ubaid Al-Qasim bin Salam, Abu Hatim As-Sijistani, Abi Ja’far Ath-Thabari, dan Ismail Al-Qadhi.
Adz-Dzahabi dalam kitabnya, Thaba­qat al-Qurra‘, menyebutkan bahwa saha­bat yang terkenal sebagai guru dan ahli qira‘at ada tujuh orang, yakni Utsman, Ubai, Ali, Zaid bin Tsabit, Abu Darda‘, dan Abu Musa Al-Asy’ari. Segolongan besar sahabat mempelajari qira‘at kepada Ubay.
Bermula dari Talaqqi
Talaqqi, guru membaca dan murid meng­ikuti bacaan, dari orang-orang yang tsiqah(terpercaya), merupakan kunci utama qira‘at Al-Qur’an secara benar dan tepat sebagaimana yang diajarkan Ra­sulullah SAW kepada para sahabatnya.
Para sahabat berbeda-beda ketika menerima qira‘at dari Rasulullah. Hingga kemudian Utsman mengirimkan mus­haf-mushaf ke berbagai kota Islam, be­liau menyertakan orang yang sesuai qi­ra‘atnya dengan mushhaf tersebut. Qi­ra‘at orang-orang ini berbeda-beda satu sama lain, sebagaimana mereka meng­ambil qira‘at dari sahabat yang berbeda pula, sedangkan sahabat juga berbeda-beda dalam mengambil qira‘at dari Ra­sulullah SAW.
Para sahabat kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri Islam dengan mem­bawa qira‘at masing-masing. Hal ini menyebabkan berbeda-beda juga ketika tabi’in mengambil qira‘at dari para saha­bat. Demikian halnya dengan tabiut tabi’in yang berbeda-beda pula dalam meng­ambil qira‘at dari para tabi’in, hingga ke masa-masa berikutnya, yang kemudian mengkristal dalam bentuk beberapa madzhab qira’at.
Ahli-ahli qira‘at di kalangan tabi’in juga telah menyebar di berbagai kota. Tabi’in ahli qira‘at yang tinggal di Madinah antara lain Ibn Al-Musayyab, ‘Urwah, Salim, Umar bin Abdul Aziz, Sulaiman dan ’Atha‘ (keduanya putra Yasar), Muadz bin Harits yang terkenal dengan Mu’ad Al-Qari’, Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj, Ibn Syihab Az-Zuhri, Muslim bin Jundab, Zaid bin Aslam.
Adapun yang tinggal di Makkah di an­taranya ‘Ubaid bin ’Umair, ‘Atha` bin Abi Rabah, Thawus, Mujahid, ‘Ikrimah, Ibnu Abi Malikah.
Tabi’in yang tinggal di Kufah antara lain ‘Alqamah, Al-Aswad, Maruq, ‘Ubai­dah, ‘Amr bin Syurahbil, Al-Harits bin Qais, ’Amr bin Maimun, Abu Abdirrahman As-Sulami, Said bin Jabir, An-Nakha’i, Asy-Sya’bi.
Sementara tabi’in yang tinggal di Bashrah di antaranya Abu ‘Aliyah, Abu Raja’, Nashr bin ‘Ashim, Yahya bin Ya’mar, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Qatadah.
Sedangkan tabi’in yang tinggal di Syam di antaranya Al-Mughirah bin Abi Syihab Al-Makhzumi dan Khalid bin Sa’ad.
Keadaan ini terus berlangsung hingga muncul para imam qira‘at yang termasy­hur, yang mengkhususkan diri dalam qi­ra‘at-qira‘at tertentu dan mengajarkan qi­ra‘at mereka masing-masing.
Perkembangan selanjutnya ditandai dengan munculnya masa pembukuan qi­ra‘at. Para ahli sejarah menyebutkan bah­wa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qira‘at adalah Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam, yang wafat pada tahun 224 H/839 M. Ia menulis kitab yang diberi nama Al-Qira‘at, yang menghimpun qira‘at dari 25 orang perawi.
Pendapat lain menyatakan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qira‘at adalah Husain bin Utsman bin Tsabit Al-Baghdadi Adh-Dharir, yang wafat pada tahun 378 H/988 M. Dengan demikian mulai saat itu qira‘at menjadi ilmu tersendiri dalam ‘ulum Al-Qur’an, ilmu-ilmu Al-Qur’an.
Qira‘at Sab’ah, ‘Asyrah, dan Syadzah
Telah termasyhur diketahui bahwa ketika Khalifah Utsman RA mengirimkan mashahif (mushaf/kitab Al-Qur’an) ke pelosok negeri yang dikuasai Islam, be­liau menyertakan orang yang sesuai qi­ra‘atnya dengan mashahif tersebut. Qi­ra‘at ini berbeda satu dengan lainnya ka­rena mereka mengambilnya dari sahabat yang berbeda pula.
Perbedaan ini berlanjut pada tingkat tabi’in di setiap daerah penyebaran. De­mikian seterusnya sehingga sampai pada munculnya imam qurra’, yakni ulama-ula­ma yang pakar di bidang Al-Qur’an yang membakukan bacaan yang mereka da­pati sesuai sanad ilmu yang mereka per­oleh.
Demi kemudahan mengenali qira‘at yang banyak itu, pengelompokan dan pem­bagian jenisnya adalah cara yang sering digunakan. Maka, dari segi jumlah, ada tiga macam qira‘at yang terkenal, yaitu qira‘at sab’ah, qira‘at ‘asyrah, dan qira‘at arba’ ‘asyrah. Sedangkan Ibnu Al-Jazari membaginya dari segi kaidah ha­dits dan kekuatan sanadnya. Pengarang kitab Al-Itqan, Imam As-Suyuthi, menye­butkan kualifikasi qira‘at, seperti halnya kedudukan hadits, yakni mutawatir, masy­hur, syadz, ahad, maudhu’, dan mu­darraj. Sedangkan Al-Qadhi Jalaluddin Al-Bulqini menyatakan bahwa qira‘at itu terbagi menjadi mutawatir, ahad, dan syadz saja.
Namun demikian kedua pembagian ini saling terkait.
Pada dasawarsa pertama abad ke-4 Hijriyyah, seorang ulama Baghdad, Abu Bakr Ahmad Ibn Mujahid, menyusun se­buah kitab yang diberi nama As-Sab’ah.
Ibn Mujahid mencoba melakukan rin­tisan dengan mengumpulkan tujuh jenis qira‘at yang mempunyai sanad bersam­bung kepada sahabat Rasulullah terke­muka. Ketujuh tokoh qira‘at ini adalah Abdullah bin Katsir Ad-Dariy dari Makkah (w. 120 H/738 M), Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu’aim dari Madinah (w. 169 H/786 M), Abdullah Al-Yahsubi atau Abu ‘Amir Al-Dimasyqi dari Syam (w. 118 H/736 M), Zabban bin Al-‘Ala bin ‘Ammar atau Abu Amr dari Bashrah (w. 154 H/771 M), Ibn Ishaq Al-Hadhrami atau Ya’qub dari Bashrah (w. 205 H/820 M), Ibn Habib Az-Zayyat atau Hamzah dari Kufah (w. 188 H/804 M), dan Ibn Abi An-Najud Al-Asady atau ‘Ashim dari Kufah (w. 127 H/754 M).
Ketika itu Ibn Mujahid menghimpun qira‘at-qira‘at mereka, ia mengganti posisi Ya’qub  dengan Al-Kisai dari Kufah (w. 182 H/798 M). Sehingga untuk Kufah, ia menetapkan tiga nama, yaitu Hamzah, ‘Ashim, dan Al-Kisai.
Meskipun di luar tujuh imam di atas masih banyak nama lainnya, ketermasy­huran tujuh imam tersebut semakin luas se­telah Ibn Mujahid secara khusus mem­bukukan qira‘at-qira‘at mereka.
Selain tujuh qira‘at di atas yang di­tetapkan Ibn Mujahid, masih ada tiga qi­ra‘at lagi yang qira‘atnya sesuai persya­ratan yang ditetapkan. Karena itu kemudi­an dikenal pula istilah qira‘at ‘asyrah (Sepuluh Qira‘at). Tiga tambahan itu ada­lah qira‘at Ya’qub (yang semula digeser Ibn Mujahid dari qira‘at sab’ah untuk diganti dengan Al-Kisai), qira‘at Khalaf bin Hisyam (w. 229 H/844 M), dan qira‘at Yazid bin Al-Qa’qa’ yang termasyhur di­sebut Abu Ja’far (w. 130 H/748). Di sam­ping itu juga dikenal qira‘at arba’ ‘asyar (Empat Belas Qira‘at), yaitu qira‘at yang sepuluh ditambah empat qira‘at lagi: Hasan Al-Bashry, Ibnu Mahish, Yahya Al-Yazidy, dan Asy-Syambudzy.
Qira‘at Syadzah (Bacaan Yang Keliru)
Qira‘at di atas digolongkan sebagai qira‘at yang shahih. Ada juga qira‘at sya­dzah, qira‘at yang keliru. Qira‘at ini mun­cul pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin ‘Affan, ketika Al-Qur’an telah di­kodifikasikan. Ada perintah untuk mem­bakar semua tulisan, selain yang dibentuk Utsman bin ‘Affan. Tidak hanya Al-Qur’an, tapi juga hadits, syair, dan lain-lain.
Peristiwa tersebut merupakan batas yang membedakan dan menentukan an­tara qira‘at shahih dan qira‘at syadzah. Oleh sebab itu kesesuaian antara satu qi­ra‘at de­ngan rasm (mushhaf) Utsmani me­ru­pakan salah satu syarat shahihnya qira‘at.
Namun Dr. Muhammad Salim Muhai­sin, dalam kitabnya, Fi Rihabi Al-Qur’an, berpendapat bahwa batas yang mem­bedakan dan menentukan antara qira‘at sha­hih dan qira‘at syadzah adalah peme­riksaan Jibril yang terakhir terhadap qi­ra‘at Al-Qur’an Nabi Muhammad SAW pada tahun wafatnya beliau. Dalam pe­meriksaan terakhir ini, sebagian qira‘at di­nasakh, dan inilah yang dianggap ke­mudi­an sebagai syadzah. Adapun, walau dari segi sanad qira‘at syadzah ada ke­mungkinan bersambung kepada Rasulul­lah, tetap meragukan.
Pengarang kitab Al-Itqan, Imam As-Suyuthi, menyebutkan kualifikasi qira‘at, seperti halnya kedudukan hadits, yakni mu­tawatir, masyhur, syadz, ahad, mau­dhu’, dan mudarraj. Sedangkan Al-Qadhi Jalaluddin Al-Bulqini menyatakan bahwa qira‘at itu terbagi menjadi mutawatir, ahad, dan syadz saja.

Yang mutawatir adalah qira‘at tujuh yang masyhur. Yang ahad adalah qira‘at tsa­latsah (tiga) yang menjadi pelengkap qira’ah ‘asyrah (sepuluh), yang kesemua­nya dipersamakan dengan qira‘at para sa­habat. Adapun qira‘at yang syadz ialah qi­ra‘at para tabi’in seperti qira‘at A’masy, Yah­ya ibnu Watsab, Ibnu Jubair, dan lain-lain.
Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa yang pantas untuk berbicara dalam bi­dang ini adalah tokoh qurra’ pada masa­nya, Syaikh Abu Al-Khair bin Al-Jazari, beliau mengatakan dalam muqaddimah kitabnya, An-Nasyr, “Semua qira`at yang sesuai dengan bacaan Arab walau hanya satu segi dan sesuai dengan salah satu mushhaf Utsmani walaupun sekadar men­dekati, serta sanadnya benar, qira`at tersebut adalah shahih (benar), yang ti­dak ditolak, haram menentangnya, bah­kan itu termasuk dalam bagian huruf yang tujuh ketika Al-Qur’an diturunkan.
Wajib bagi semua orang untuk mene­rimanya, baik timbulnya dari imam yang tu­juh maupun dari yang sepuluh atau lain­nya, yang bisa diterima. Apabila salah satu persyaratan yang tiga tersebut tidak terpenuhi, qira‘at itu dikatakan qira‘at yang syadz atau bathil, baik datangnya dari aliran yang tujuh maupun dari tokoh yang lebih ternama lagi. Inilah pendapat yang benar menurut para muhaqqiq dari kalangan salaf maupun khalaf.”
Banyak sekali kitab qira‘at yang ditulis para ulama setelah kitab As-Sab’ah. Yang paling terkenal di antaranya adalah At-Taysir fi al-Qira‘at as-Sab’iyang disusun Abu Amr Ad-Dani, Matn asy-Syathibiyah fi Qira‘at as-Sab’ikarya Imam Asy-Syathibi, An-Nasyr fi Qira‘at al-‘Asyr karya Ibn Al-Jazari, dan Ithaf Fudhala’ al-Basyar fi al-Qira‘at al-Arba’ah ‘Asyarkarya Imam Ad-Dimyathi Al-Banna‘,ada pula kitab sabah karya ulama lokal yang mendunia yaitu Faidh al-Barakat fi as-Sab’i al-Qira’at karya KH. Arwani Amin Kudus Jateng, kitab terakhir berisi intisari dari kitab asy-syatibiyahsehingga mudah untuk dipahami. Ma­sih banyak lagi kitab lain tentang qira‘at yang membahas qira‘at dari berbagai segi secara luas hingga saat ini.


Dari hasil kajian bibliografi yang di­lakukan oleh Prof. Dr. Abdullah Muham­mad Al-Jayusi dalam sebuah konferensi qira’at Al-Qur’an dan i’jaz, Fakultas Syu’aib Ad-Dakali, Maroko, ditemukan lebih dari 500 referensi, baik klasik mau­pun kontem­porer, dalam disiplin ilmu ini. Kitab Ibraz Al-Ma’ani, yang ditulis Abd Ar-Rahman bin Ismail bin Ibrahim (termasy­hur dengan sa­paan “Abu Syamah”), ada­lah satu dari kar­ya dalam disiplin ilmu ter­sebut.

Oleh SaifurroyyaDari Berbagai Sumber

Rabu, 20 Agustus 2014

Keutamaan Dan Rahasia Jumat Etika Menyambut Hari Jumat


Keutamaan Dan Rahasia Jumat, Etika Menyambut Hari Jumat - Rasulullah sangat memuliakan hari Jumat. Dalam banyak riwayat, Rasulullah bahkan meminta kita memuliakan hari itu. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bersabda : “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” [Riwayat Muslim]

Rasulullah juga pernah bersabda : “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata : ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” ( Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An- Nasa’i )

Keistimewaan lain hari Jumat adalah saat-saat dikabulkannya doa, yaitu saat-saat terakhir setelah shalat ashar ( seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits ) atau di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai ditunaikan.

Amalan Mulia

Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu. Di dalamnya banyak rahasia dan keutamaan yang datangnya langsung dari Allah.

Beberapa rahasia keagungan hari Jumat adalah sebagai berikut :

1. Pertama, Hari Keberkahan.
Di mana di hari Jumat berkumpul kaum Muslimin di masjid-masjid untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Jumat yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan.
Bahkan Imam as-Suyuthi menyebut ada 1001 keistimewaan.

2. Kedua, Hari Dikabulkannya doa.
Di antara rahasia keutamaan hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa.

Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [ HR.Bukhari dan Muslim ]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.”
[ Muttafaqun Alaih ]

3. Ketiga, Hari Diperintahkannya Shalat Jumat.
Rasulullah bersabda :
Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau ( jika tidak ) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang- orang yang lalai.” [ HR.Muslim ]

Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan :
Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang : budak, atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.”[ HR.Abu Daud ]

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [ QS: Al-Jumuah:9 ]

Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..”

4. Keempat, Hari Pembeda antara Islam dan Non- Muslim.
Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani.

Abu Hurairah meriwayatkan :
Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad.
Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.”
[ HR. Muslim ]

5. Kelima, Hari Allah s.w.t menampakan diri.
Dalam sebuah riwayat disebutkan,Hari Jumat Allah s.w.t menampakkan diri kepada hamba-hambaNya yang beriman di Surga.

Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat:
Dan Kami memiliki pertambahannya” ( QS.50:35 ) mengatakan:”Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat.”

Dan masih banyak keistimewan hari Jumat.
Di antaranya adalah : Dalam “al-Musnad” dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata’ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha."

Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu, bapak semua umat manusia, Nabi Adam ‘Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat.
Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at.

Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.

Etika Menyambut Hari Jumat

1. Mandi Jum’at (jinabat)

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda, yang artinya: “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” ( HR. Bukhori dan Muslim )
Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat.

Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi jinabat biasa.
Rasulullah bersabda yang artinya : “Barangsiapa mandi Jumat seperti mandi jenabat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Berpakaian Bersih dan Memakai Wangi-Wangian

Rasulullah berkata :
Siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at.” [ HR. Bukhari ]

3. Menghentikan Aktivitas Jual-Beli dan Menyegerakan ke Masjid

Anas bin Malik berkata :
Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” [ HR. Bukhari ]
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata :
Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” ( Lihat Fathul Bari II / 388 )

4. Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jum’at

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.”                          [ HR. Muslim ]

5. Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya : “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.”

6. Memperbanyak Shalawat

Dari Anas r.a, Rasulullah bersabda :
Perbanyaklah shalawat pada hari Jumat dan malam Jumat.”  [ HR. Baihaqi ]

Dari Anas Radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bersabda :
Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jumat. pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku”,

para shahabat bertanya: “wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur ( sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat ),
Beliau menjawab:
sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan ( menghancurkan ) jasad para Nabi.” [ HR. "al-Khamsah ]

Rahasia 7 Orang Yang Doanya Mustajab

doa mustajab, doa mustajab murah rezeki, doa mustajab ketika hujan, doa doa mustajab, doa mustajab pembuka rezeki, doa mustajab di mekah
Rahasia Doa Mustajab
Doa adalah senjatanya orang beriman. Doa adalah ruhnya ibadah. Doa merupakan salah satu bukti ketergantungan manusia beriman kepada Allah, Sang Maha Pencipta. Siapa pun Anda, pasti ingin doanya mustajab atau dikabulkan oleh Allah SWT.

Banyak orang yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan untuk berdoa. Padahal, boleh jadi seseorang itu tergolong yang mustajab doanya, tetapi kesempatan baik itu banyak disia-siakan. Maka seharusnya setiap muslim memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdoa sebanyak mungkin. Doa itu hendaknya doa baik memohon sesuatu yang berhubungan dengan dunia ataupun akhirat. Lalu, apakah Anda termasuk orang-orang yang doanya mustajab?

Inilah di antara orang-orang yang doanya mustajab.
[1]. Doa Seorang Muslim Terhadap Saudaranya Dari Tempat Yang Jauh
Dari Abu Darda bahwa dia berkata bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya : "Tidaklah seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak di hadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata : Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan". [Shahih Muslim, kitab Doa wa Dzikir bab Fadli Doa fi Dahril Ghalib].

Imam An-Nawawi berkata bahwa hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan seorang muslim mendoakan saudaranya dari tempat yang jauh, jika seandainya dia mendoakan sejumlah atau sekelompok umat Islam, maka tetap mendapatkan keutamaan tersebut. Oleh sebab itu sebagian ulama salaf tatkala berdoa untuk diri sendiri dia menyertakan saudaranya dalam doa tersebut, karena disamping terkabul dia akan mendapatkan sesuatu semisalnya. [Syarh Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi 17/49]

Dari Shafwan bin Abdullah bahwa dia berkata : Saya tiba di negeri Syam lalu saya menemui Abu Darda di rumahnya, tetapi saya hanya bertemu dengan Ummu Darda dan dia berkata: Apakah kamu ingin menunaikan haji tahun ini? Saya menjawab : Ya. Dia berkata : Doakanlah kebaikan untuk kami karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya: "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya terkabulkan dan disaksikan oleh malaikat yang ditugaskan kepadanya, tatkala dia berdoa untuk saudaranya, maka malaikat yang di tugaskan kepadanya mengucapkan: Amiin da bagimu seperti yang kau doakan". Shafwan berkata : "Lalu saya keluar menuju pasar dan bertemu dengan Abu Darda, beliau juga mengutarakan seperti itu dan dia meriwayatkannya dari Nabi. [Shahih Muslim, kitab Dzikir wa Doa bab Fadlud Doa Lil Muslimin fi Dahril Ghaib 8/86-87]

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa jika seorang muslim mendoakan saudaranya kebaikan dari tempat yang jauh dan tanpa diketahui oleh saudara tersebut, maka doa tersebut akan dikabulkan, sebab doa seperti itu lebih berbobot dan ikhlas karena jauh dari riya dan sumah serta berharap imbalan sehingga lebih diterima oleh Allah. [Miratul Mafatih 7/349-350]

Catatan.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa Imam Karmani menukil dari Al-Qafary bahwa ucapan doa seorang : "Ya Allah ampunilah dosa semua kaum muslimin" adalah doa terhadap sesuatu yang mustahil sebab pelaku dosa besar mungkin masuk Neraka dan masuk Neraka bertolak belakang dengan permohonan pengampunan, bisa saja pelaku dosa besar di doakan, sebab yang mustahil adalah mendoakan pelaku dosa besar yang kekal di Neraka, selagi masih bisa keluar karena syafaat atau dimaafkan, maka itu termasuk pengampunan secara keseluruhan.

Ucapan orang di atas bertentangan dengan doa Nabi Nuh Alaihis Salam dalam firman Allah Subhanahu wa Taala. yang artinya: "Ya Rabb! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang-orang mukmin yang masuk ke rumahku dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan". [Nuh : 28].

Dan juga bertentangan dengan doa Nabi Ibrahim Alaihis Salam dalam firman Allah Subhanahu wa Taala yang artinya: "Ya Rabbi, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab". [Ibrahim : 41]

Serta Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga diperintahkan seperti itu yang
terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Taala yang artinya: "Dan mohon lah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan". [Muhammad : 19]

Yang jelas permohonan dengan lafazh umum tidak mengharuskan permohonan untuk setiap orang secara kolektif. Mungkin yang dimaksud oleh Al-Qafary bahwa mendoakan kaum muslimin secara kolektif dilarang bila seorang yang berdoa menginginkan keseluruhan tanpa pengecualian dan bukan pelarangan terhadap syariat doanya. [Fathul Bari 11/202]

[2]. Orang yang Memperbanyak Berdoa Pada Saat Lapang Dan Bahagia
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya: "Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang". [Sunan At-Tirmidzi, kitab Daawaat bab Dawatil Muslim Mustajabah 12/274. Hakim dalam Mustadrak. Dishahihkan oleh Imam Dzahabi 1/544. Dan di hasankan oleh Al-Albani No. 2693].

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa makna hadits di atas adalah hendaknya seseorang memperbanyak doa pada saat sehat, kecukupan dan selamat dari cobaan, sebab ciri seorang mukmin adalah selalu dalam keadaan siaga sebelum membidikkan panah. Maka sangat baik jika seorang mukmin selalu berdoa kepada Allah sebelum datang bencana berbeda dengan orang kafir dan zhalim sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala "Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu". [Az-Zumar : 8].

Dan firman Allah: "Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya". [Yunus : 12. Miratul Mafatih 7/360]

Wahai orang yang ingin dikabulkan doanya, perbanyaklah berdoa pada waktu lapang agar doa Anda dikabulkan pada saat lapang dan sempit.

3]. Doa Orang Yang Teraniaya
Dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)". [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38]

Dari Abu Hurairah bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda:           "Doanya orang yang teraniaya terkabulkan, apabila dia seorang durhaka, maka kedurhakaannya akan kembali kepada diri sendiri". [Musnad Ahmad 2/367. Dihasankan sanadnya oleh Mundziri dalam Targhib 3/87 dan Haitsami dalam Majma Zawaid 10/151, dan Imam Ajluni No. 1302]

[4] & [5]. Doa Orang Tua Terhadap Anaknya Dan Doa Seorang Musafir
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan; doa orang yang teraniaya; doa seorang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya". [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Doa bi Dhahril Ghaib 2/89. Sunan At-Tirmidzi, kitab Al-Bir bab Doaul Walidain 8/98-99. Sunan Ibnu Majah, kitab Doa 2/348 No. 3908. Musnad Ahmad 2/478. Dihasankan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah No. 596]

[6]. Doa Orang Yang Sedang Puasa


Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tiga doa yang tidak ditolak :  doa orang tua terhadap anaknya; doa orang yang sedang berpuasa dan doa seorang musafir". [Sunan Baihaqi, kitab Shalat Istisqa bab Istihbab Siyam Lil Istisqa 3/345. Dishahihkan oelh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah No. 1797].

[7]. Doa Orang Dalam Keadaan Terpaksa


Allah Subhanahu wa Taala berfirman: "Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya". [An-Naml : 62]

Imam As-Syaukani berkata bahwa ayat diatas menjelaskan betapa manusia sangat membutuhkan Allah dalam segala hal terlebih orang yang dalam keadaan terpaksa yang tidak mempunyai daya dan upaya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang terpaksa adalah orang-orang yang berdosa dan sebagian yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud terpaksa adalah orang-orang yang hidup dalam kekurangan, kesempitan atau sakit, sehingga harus mengadu kepada Allah.


Dan huruf lam dalam kalimat Al-Mudhthar untuk menjelaskan jenis bukan istighraq (keseluruhan). Maka boleh jadi ada sebagian orang yang berdoa dalam keadaan terpaksa tidak dikabulkan dikarenakan adanya penghalang yang menghalangi terkabulnya doa tersebut. Jika tidak ada penghalang, maka Allah telah menjamin bahwa doa orang dalam keadaan terpaksa pasti dikabulkan. Yang menjadi alasan doa tersebut dikabulkan karena kondisi terpaksa bisa mendorong seseorang untuk ikhlas berdoa dan tidak meminta kepada selain-Nya. Allah telah mengabulkan doa orang-orang yang ikhlas berdoa meskipun dari orang kafir, sebagaimana firman Allah: "Sehingga tatkala kamu di dalam bahtera, dan meluncurkan bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata) : Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur". [Yunus : 22].

Dan Allah berfirman dalam ayat lain: "Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah)". [Al-Ankabut : 65].

Dari ayat di atas Allah mengabulkan doa mereka, padahal Allah tahu bahwa mereka pasti akan kembali kepada kesyirikan. [Fathul Qadir 4/146-147]

Imam Ibnu Katsir berkata bahwa Imam Hafizh Ibnu Asakir mengisahkan seorang yang bernama Abu Bakar Muhammad bin Daud Ad-Dainuri yang terkenal dengan kezuhudannya. Orang tersebut berkata: "Saya menyewakan kuda tunggangan dari Damaskus ke negeri Zabidany, pada satu ketika ada seorang menyewa kuda saya dan meminta untuk melewati jalan yang tidak pernah saya kenal sebelumnya", Dia berkata : "Ambillah jalan ini karena lebih dekat". Saya bertanya : "Bolehkah saya memilih jalan ini", Dia berkata : "Bahkan jalan ini lebih dekat". Akhirnya kami berdua menempuh jalan itu sehingga kami sampai pada suatu tempat yang angker dan jurangnya yang sangat curam yang di dalamnya terdapat banyak mayat. Orang tersebut berkata: "Peganglah kepala kudamu, saya akan turun". Setelah dia turun dan menyingsingkan baju lalu menghunuskan golok bermaksud ingin membunuh saya, lalu saya melarikan diri darinya, akan tetapi dia mampu mengejarku. Saya katakan kepadanya: "Ambillah kudaku dan semua yang ada padanya". Dia berkata: "Kuda itu sudah milikku, tetapi aku ingin membunuhmu". Saya mencoba menasehati agar dia takut kepada Allah dan siksaan-Nya tetapi ternyata dia seorang yang tidak mudah menerima nasehat, akhirnya saya menyerahkan diri kepadanya.

Saya berkata kepadanya: "Apakah anda mengizinkan saya untuk shalat?" Dia berkata: "Cepat shalatlah!" Lalu saya beranjak untuk shalat akan tetapi badan saya gemetar sehingga saya tidak mampu membaca ayat Al-Quran sedikitpun dan hanya berdiri kebingungan. Dia berkata: "cepat selesaikan shalatmu!", maka setelah itu seakan-akan Allah membukakan mulut saya dengan suatu ayat yang berbunyi: "Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan". [An-Naml : 62]

Tidak terduga muncul dari mulut bukit seorang satria datang ke arah kami dengan menggenggam tombak di tangannya, lalu melempar tombak tersebut ke arah orang tadi dan tombak pun mengenai jantungnya lalu seketika itu orang tersebut langsung mati terkapar. Setelah itu, maka saya memegang erat-erat satria tersebut dan saya bertanya: "Demi Allah siapakah engkau sebenarnya?" Dia mejawab: "Saya adalah utusan Dzat Yang Maha Mengabulkan permohonan orang-orang yang dalam keadaan terpaksa tatkala dia berdoa dan menghilangkan segala malapetaka". Kemudian saya mengambil kuda dan semua harta lalu pulang dalam keadaan selamat. [Tafsir Ibnu Katsir 3/370-371]
 
Sumber: buku Jahalatun nas fid duaa, edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdoa oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 168-174, terbitan Darul Haq, penerjemah Zaenal Abidin, Lc.

Tags yang terkait dengan doa mustajab: doa mustajab murah rezeki, doa mustajab ketika hujan, doa doa mustajab, doa mustajab pembuka rezeki, doa mustajab di mekah, doa mustajab sepanjang hayat, doa mustajab sebelum berbuka puasa, doa mustajab rasulullah.

Kamis, 14 Agustus 2014

7 Amalan Rahasia Pengundang Pertolongan Allah SWT

Sebuah buku yang berjudul 7 Rahasia Pengundang Pertolongan Allah telah beredar. Buku ini adalah tulisan Fadhlan Al Ikhwani yang mengupas tentang amalan-amalan yang mesti dilakukan manusia agar pertolongan Allah menghampiri kita. Sudah ada resensi buku yang posting di bersamadakwah.  Berikut ini ulasannnya:

7 Amalan Rahasia Pengundang Pertolongan Allah SWT


Manusia adalah makhluk yang lemah. Allah Mahakuat dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan bagi seorang manusia kecuali karena Allah berkehendak. Sebab lemahnya itu, maka manusia teramat berhajat akan pertolongan dari Allah Yang Maha Menolong. Pertolongan Allah kepada seorang hamba adalah pangkal kemudahan dan kesuksesan. Sebaliknya, ketiadaan pertolongan Allah adalah pangkal musibah dan keterjerumusan.

Allah Maha Menolong. Pertolongan-Nya bisa dipanggil dan diundang dengan cara atau amal yang telah ditentukan-Nya. Sebab Dia Maha Mengurusi seluruh makhluk-Nya. Dia memenuhi seluruh kebutuhan hamba-Nya.

Sedikitnya, ada tujuh amalan yang bisa mengundang Pertolongan Allah. Tujuh amalan ini telah digaransi oleh al-Qur’an dan dibuktikan kemujarabannya oleh para Nabi dan Rasul panutan umat ini. Semuanya bisa dipraktekan sehingga pertolongan itu benar-benar mewujud dalam kehidupan seorang hamba.

Zikir dan doa adalah amalan pertama yang bisa mengundang Pertolongan-Nya. Keduanya bisa berasal dari al-Qur’an maupun sunnah Rasul-Nya. Zikir adalah sarana untuk mengingat Allah. Dengannya, Allah akan mengingat hamba yang berzikir itu. Kemudian namanya disebut-sebut dalam majlis malaikat di sisi-Nya. Doa merupakan senjata utama orang mukmin, pencegah datangnya musibah, mengubah takdir buruk, menenangkan hati, mengunduh pahala dan aneka keutamaan lainnya.

Amalan kedua adalah melazimkan istighfar. Sebagaimana difahami, istighfar merupakan sarana meminta ampun kepada Allah atas kesalahan dan dosa yang dilakukan seorang hamba. Siapa yang melazimkan istighfar, maka akan diberikan kepadanya rezeki yang melimpah ruah-tiada habisnya. Amalan ini merupakan solusi atas setiap masalah yang ada. Melazimkan istighfar juga bisa membuat seseorang terhidar dari dosa lisan. Melazimkan berarti menghiasi diri dengannya sepanjang waktu. Di pagi, siang, sore, malam dan sepanjang hari. Ketika berbaring, duduk, berdiri, berjalan dan di setiap aktivitas.

Selanjutnya adalah sabar dan shalat. Dua hal ini telah digaransi langsung oleh Allah melalui firman-Nya dalam surah al-Baqarah. Siapa yang sabar, maka Allah bersamanya. Siapa yang mendirikan shalat, maka dia membersihkan dirinya dari dosa. Dia juga menghubungkan dirinya yang lemah kepada Allah Yang Mahakuat. Shalat adalah mi’rojnya orang beriman.

Kedua amalan ini berat dilakukan, kecuali bagi orang yang khusyu’. Yakni orang yang yakin akan pertemuan dengan Rabbnya dan meyakini bahwa dia akan kembali kepada-Nya.

Amalan keempat yang bisa mengundang pertolongan Allah adalah dengan menolong agama-Nya. Siapa yang menolong agama-Nya, maka Dia akan menolong dan meneguhkan pijakannya. Amalan ini erat kaitannya dengan berjuang di segala lini. Khususnya jihad fi sabilillah. Siapa yang berjuang kemudian mati dalam keadaan syahid, maka surga menjadi jaminan baginya.

Selain amalan-amalan langit itu, pertolongan Allah juga bisa diundang dengan cara peduli kepada sesama. Baik kepada keluarga, sahabat, masyarakat, kaum miskin yang membutuhkan atau yang memang memiliki hak atas diri seorang hamba.

Mereka yang peduli kepada sesama akan mendapat pahala ganda di dunia dan akhirat. Di dunia berupa kemudahan hidup, mendapat pertolongan balasan dari sesama, dan dimuliakan oleh sesama sebab akhlak dan kemanfaatannya. Sedangkan di akhirat, setiap amalnya akan diganjari dengan pahala terbaik.

Dua amalan terakhir yang bisa mengundang pertolongan Allah adalah memelihara takwa dan tawakkal kepada Allah. Takwa bisa menjadi sebab diberikannya jalan keluar dari Allah atas setiap persoalan. Sedangkan tawakkal membuat seseorang dicukupi kebutuhannya oleh Allah Sang Mahakuasa.


Di dalam buku ini, ketujuh rahasia mengundang pertolongan Allah dikupas tuntas dengan dalil yang kuat dari al-Qur’an, disempurnakan dengan apa yang ada dalam sunnah Nabi. Di akhir buku juga disebutkan tentang bukti pertolongan Allah melalui kisah. Dilanjutkan dengan sepuluh cara yang bisa ditempuh untuk mempercepat datangnya pertolongan Allah. Selamat membaca dan mengundang Pertolongan-Nya.