Tampilkan postingan dengan label selamat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label selamat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Agustus 2014

Selamat Jalan Ustad Jefri Al Buchory

Ustad Jefri Al-BuchoryKabar duka datang dari Ustaz Jeffry Al-Buchory. Ustaz kondang itu meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Kabar duka kembali menyelimuti negeri ini. Ustadz Jefri Al-Buchori atau biasa disapa Uje, meninggal dunia akibat kecelakaan tunggal. Sumber di twitter TMC Polda Metro Jaya menyebutkan kecelakaan Uje terjadi di kawasan Pondok Indah Jakarta. Motor yang dikendarai Uje menabrak pohon yang mengakibatkan ustadz muda tersebut menghembuskan nafas terakhir.

Twitter : "03:47 Kecelakaan Pemotor Kawasaki B 3590 SGQ di Jl. Gedong Hijau 7 Pdk Indah, korban meninggal dunia a/n Bpk Jefri Al Buchori," demikian informasi twitter TMC Polda Metro Jaya, Jum’at (26/4/2013).

Selain itu, informasi dan ucapan belasungkawa juga disampaikan melalui akun facebook ustadz Arifin Ilham. “Inna lillaaahi wa inna ilaihi roojiuun, sesungguhnya semuanya milik Allah dan sesungguhnya semua kembali kepada Allah. Telah pulang ke Rahmatullah sahabat kita Ustadz Jefry AlBukhori, yg akrab kita panggil Uje. Allahummagfirlahu warhamhu…semoga Allah mengampuni semua dosa almarhum, memaafkan semua kesalahan almarhum…aamiin,” tulisnya.

Hal yang sama juga beredar melalui SMS maupun broadcast blackberry messenger (BBM) yang berisi ucapan duka cita. Dari informasi yang diterima, Shubuh tadi jenazah ustadz Jefri Al-Buchori sudah berada di perumahan Bukit Mas Narmada 3 Blok I, No. 11, Rempoa, Bintaro, Jakarta Selatan.

Ayahnya bernama Alm. H. Ismail Modal dan ibunya bernama Ustdzah Dra. Hj. Tatu Mulyana. Ustadz yang dikenal gaul dalam mengemas dakwahnya ini menikah dengan Pipik Dian Irawati pada 7 September 1999 dan dikaruniai tiga anak; Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari, dan Ayla Azuhro.

Setelah kecelakaan maut itu, korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Pondok Indah. "Iya (dibawa ke RS Pondok Indah), info jelasnya tidak bisa kita kasih tahu bukan wewenang kita, tanya keluarga saja," kata petugas informasi RS Pondok Indah yang enggan menyebutkan namanya.

Sedangkan menurut Istri Ustaz Jeffry, Pipik Dian Irawati, hanya beberapa saat suaminya itu di RS Pondok Indah dan meninggal dunia pukul 02.30 WIB. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..telah berpulang ke rahmatullah ustadz JEFRY AL - BUCHORI pagi ini jam 02.30 wib, almarhum terkena musibah kecelakaan,semoga apa yang telah beliau perbuat didunia ini mendapatkan berkah dri allah S.W.T & beliau ditempatkan di surgaa allah S.W.T," tulis istri Uje, Pipik melalui BBM kepada KapanLagi.com®, Jumat (26/04).

#Lihat pula : Biografi Uje - Ustadz Jeffry Al Buchori

Selasa, 12 Agustus 2014

Jalan Golongan Yang Selamat 3

TANDA TANDA GOLONGAN YANG SELAMAT
Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

1. Golongan Yang Selamat jumlahnya sangat sedikit di tengah banyaknya Umat Manusia .
Tentang keadaan mereka, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,

طوبي للغربأ : اناس صالحون، في اناس سوء كثير، من يعصيهم اكثر ممن يطيعهم
"Keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang shalih di lingkungan orang banyak yang berperangai buruk, orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada orang yang mentaatinya." (HR. Ahmad, hadits shahih)

Dalam Al-Quranul Karim, Allah memuji mereka dengan firman-Nya,

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba: 13)

2. Golongan Yang Selamat banyak dimusuhi oleh manusia, difitnah dan dilecehkan dengan gelar dan sebutan yang buruk.

Nasib mereka seperti nasib para nabi yang dijelaskan dalam firman Allah,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." (Al-Anam: 112)

Rasulullah misalnya, ketika mengajak kepada tauhid, oleh kaumnya beliau dijuluki sebagai "tukang sihir lagi sombong". Padahal sebelumnya mereka memberi beliau julukan "ash-shadiqul amin", yang jujur dan dapat dipercaya.

3. Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya tentang Golongan Yang Selamat, beliau menjawab, "Mereka adalah orang-orang salaf dan setiap orang yang mengikuti jalan para salafush shalih (Rasulullah, para sahabat dan setiap orang yang mengikuti jalan petunjuk mereka)."

Hal-hal di atas adalah sebagian dari manhaj dan tanda-tanda Golongan Yang Selamat. Pada pasal-pasal berikut akan dibahas masalah akidah Golongan Yang Selamat yaitu golongan yang mendapat pertolongan. Semoga kita termasuk mereka yang berakidah Firqah Najiyah (Golongan Yang Selamat) ini, Amin.

Kamis, 19 Juni 2014

HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU

Penulis: Redaksi Assalafy.org

Pertanyaan : Apa hukumnya mengucapkan selamat tahun baru, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh umat, seperti saling mengucapkan : كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ (setiap tahun engkau senantiasa berada dalam kebaikan) atau ucapan-ucapan semisal?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullah menjawab :

Ucapan selamat tahun baru bukanlah perkara yang dikenal di kalangan para ‘ulama salaf. Oleh karena itu lebih baik ditinggalkan. Namun kalau seseorang mengucapkan selamat karena pada tahun yang sebelumnya ia telah menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah, ia mengucapkan selamat karena umurnya yang ia gunakan untuk ketaatan kepada Allah, maka yang demikian tidak mengapa. Karena sebaik-baik manusia adalah barangsiapa yang panjang umurnya dan baik amalannya. Namun perlu diingat, ucapan selamat ini hanyalah dilakukan pada penghujung tahun hijriyyah. Adapun penghujung tahun miladiyyah (masehi) maka tidak boleh mengucapkan selamat padanya, karena itu bukan tahun yang syar’i. Bahkan kaum kafir biasa mengucapkan selamat pada hari-hari besar mereka. Seseorang akan berada pada bahaya besar jika ia mengucapkan selamat pada hari-hari besar orang-orang kafir. Karena ucapan selamat untuk hari-hari besar orang-orang kafir merupakan bentuk ridha terhadap mereka bahkan lebih. Ridha terhadap hari-hari besar orang-orang kafir bisa mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imâm Ibnul Qayyim dalam kitab Ahkâm Ahlidz Dzimmah (Hukum-hukum tentang Kafir Dzimmi).

Kesimpulannya : Ucapan selamat untuk tahun baru hijriyyah lebih baik ditinggalkan tanpa diragukan lagi, karena itu bukan kebiasaan para ‘ulama salaf. Namun kalau ada seseorang yang mengucapkannya maka ia tidak berdosa.

Adapun ucapan selamat untuk tahun baru miladiyyah (masehi) maka tidak boleh.

[dari Liqâ`âtil Bâbil Maftûh ]

http://www.assalafy.org/mahad/?p=291

Selasa, 17 Juni 2014

Jalan Golongan Yang Selamat 15

SYIRIK BESAR DAN MACAMNYA
Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Syirik besar adalah menjadikan sesuatu sebagai sekutu (tan-dingan) bagi Allah. Ia memohon kepada sesuatu itu sebagaimana ia memohon kepada Allah. Atau melakukan padanya suatu bentuk ibadah, seperti istighatsah (mohon pertolongan), menyembelih hewan, bernadzar dan sebagainya.

Dalam Shahihain disebutkan, Ibnu Masud meriwayatkan, aku bertanya kepada Nabi , "Dosa apakah yang paling besar?" Beliau menjawab:

أن تجعل لله ندأ وهو خلقك
"Yaitu engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah sedang-kan Dialah yang menciptakanmu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

A. MACAM-MACAM SYIRIK BESAR

1. Syirik dalam doa:

Yaitu berdoa kepada selain Allah, baik kepada para nabi atau wali, untuk meminta rizki atau memohon kesembuhan dari penyakit. Allah berfirman,

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka se-sungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zha-lim."(Yunus: 106)

Zhalim yang dimaksud oleh ayat ini adalah syirik. Dan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam menegaskan dalam sabdanya:

من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار
"Barangsiapa meningal dunia sedang dia memohon kepada se-lain Allah sebagai tandingan (sekutu), niscaya dia masuk Neraka." (HR. Al-Bukhari)

Sedangkan dalil yang menyatakan bahwa berdoa kepada selain Allah, baik kepada orang-orang mati atau orang-orang yang tidak hadir merupakan perbuatan syirik adalah firman Allah:

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ، إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menye-ru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mere-ka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan perminta-anmu. Dan di hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui," (Faathir: 13-14)

2. Syirik dalam sifat Allah:

Seperti kepercayaan bahwa para nabi dan wali mengetahui hal-hal yang ghaib. Allah berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
"Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri." (Al-Anaam: 59)

3. Syirik dalam mahabbah (kecintaan):

Yang dimaksud syirik dalam mahabbah yaitu ia mencintai seseorang baik wali atau lainnya sebagaimana kecintaannya kepada Allah. Allah Taala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tan-dingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya, sebagai-mana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang ber-iman sangat cintanya kepada Allah." (Al-Baqarah: 165)

4. Syirik dalam ketaatan:

Yaitu ketaatan kepada ulama atau syaikh dalam hal kemaksiatan, dengan mempercayai bahwa hal tersebut dibolehkan. Allah berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah." (At-Taubah: 31)

Taat kepada para ulama dalam hal kemaksiatan yaitu dengan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Atau sebaliknya, mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Taat kepada para ulama dalam hal kemaksiatan inilah yang ditafsirkan sebagai bentuk ibadah kepada mereka. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam menegaskan:

لا طا عة لمخلوق في معصية الخلق
"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Al-Khalik (Allah)." (HR. Ahmad, hadits shahih)

5. Syirik hulul:

Yaitu mempercayai bahwa Allah menitis kepada para makhluk-Nya. Ini adalah aqidah Ibnu Arabi, seorang shufi yang meninggal dunia di Damaskus. Sampai-sampai Ibnu Arabi mengatakan:

"Tuhan adalah hamba, dan hamba adalah Tuhan.

Duhai sekiranya, siapakah yang mukallaf?"

Seorang penyair shufi lainnya, yang mempercayai aqidah hulul bersenandung:

"Tiada anjing dan babi itu, melainkan tuhan kita (juga).

Dan tiadalah Allah itu, melainkan seorang rahib yang ada di gereja."

6. Syirik tasharruf (tindakan):

Yaitu keyakinan bahwa sebagian para wali memiliki keleluasaan untuk bertindak dalam urusan makhluk. Percaya bahwa mereka bisa mengatur persoalan-persoalan makhluk. Mereka namakan para wali itu dengan "wali Quthub". Padahal Allah Taala telah menanyakan orang-orang musyrik terdahulu dengan firmanNya:

وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
"Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab, Allah." (Yunus: 31)

7. Syirik khauf (takut):

Yaitu keyakinan bahwa sebagian dari para wali yang telah meninggal dunia atau orang-orang yang ghaib bisa melakukan dan mengatur suatu urusan serta mendatangkan mudharat (bahaya). Kare-na keyakinan ini, mereka menjadi takut kepada para wali atau orang-orang tersebut.

Karena itu, kita menjumpai sebagian manusia berani bersumpah bohong atas nama Allah, tetapi tidak berani bersumpah bohong atas nama wali, karena takut kepada wali tersebut. Hal ini adalah keper-cayaan orang-orang musyrik, yang diperingatkan Al-Quran dalam firmanNya:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ
"Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya? Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah." (Az-Zumar: 36)

Adapun takut kepada hewan liar atau kepada orang hidup yang zhalim maka hal itu tidak termasuk dalam syirik ini. Itu adalah ketakutan yang merupakan fitrah dan tabiat manusia, dan tidak termasuk syirik.

8. Syirik hakimiyah:

Termasuk dalam syirik hakimiyah (kekuasaan) yaitu mereka yang membuat dan mengeluarkan undang-undang yang bertentangan dengan syariat Islam serta membolehkan diberlakukannya undang-undang tersebut. Atau dia memandang bahwa hukum Islam tidak lagi sesuai dengan zaman.

Yang tergolong musyrik dalam hal ini adalah para hakim (penguasa, yang membuat serta memberlakukan undang-undang), serta orang-orang yang mematuhi dan menjalankan undang-undang terse-but, jika dia meyakini kebenaran undang-undang itu serta rela dengan-nya.

9. Syirik besar bisa menghapuskan amal:

Allah berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Jika kamu mempersekutukan (Tu-han), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu terma-suk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65)

10. Syirik besar tidak akan diampuni oleh Allah kecuali dengan taubat dan meninggalkan perbuatan syirik secara keseluruhan:

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesung-guhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (An-Nisaa: 116)

11. Syirik banyak macamnya:

Di antaranya adalah syirik besar dan syirik kecil. Semua itu wajib dijauhi. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita agar berdoa:

اللهم انا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئا نعلمه و نستغفرك لما لا نعلم
"Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepadaMu dari (menyekutukanMu dengan sesuatu) yang kami tidak ketahui." (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

Senin, 16 Juni 2014

Jalan Golongan Yang Selamat 23

TAWASSUL YANG DISYARIATKAN
Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri KepadaNya." (Al-Maaidah: 35)

Qatadah berkata, "Dekatkanlah dirimu kepadaNya, dengan ketaatan dan amal yang membuatNya ridha."

Tawassul yang disyariatkan adalah tawassul sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Quran, diteladankan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam dan dipraktekkan oleh para sahabat.

Di antara tawassul yang disyariatkan yaitu:

1. Tawassul dengan iman:

Seperti yang dikisahkan Allah dalam Al-Quran tentang hamba-Nya yang ber-tawassul dengan iman mereka. Allah berfirman,

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu), Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti." (Ali Imran: 193)

2. Tawassul dengan mengesakan Allah:

Seperti doa Nabi Yunus Alaihis Salam, ketika ditelan oleh ikan Nun. Allah mengisahkan dalam firmanNya:

فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
"Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya, dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (Al-Anbiyaa: 87-88)

3. Tawassul dengan Nama-nama Allah:

Sebagaimana tersebut dalam firmanNya,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
"Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu." (Al-Araaf: 180)

Di antara doa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam dengan Nama-namaNya yaitu:

أسألك بكل اسم هو لك
"Aku memohon KepadaMu dengan segala nama yang Engkau miliki." (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan shahih)

4. Tawassul dengan Sifat-sifat Allah:

Sebagaimana doa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam ,

يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث
"Wahai Dzat Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku mohon pertolongan." (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

5. Tawassul dengan amal shalih:

Seperti shalat, berbakti kepada kedua orang tua, menjaga hak dan amanah, bersedekah, dzikir, membaca Al-Quran, shalawat atas Nabi , kecintaan kita kepada beliau dan kepada para sahabatnya, serta amal shalih lainnya.

Dalam kitab Shahih Muslim terdapat riwayat yang mengisahkan tiga orang yang terperangkap di dalam gua. Lalu masing-masing ber-tawassul dengan amal shalihnya. Orang pertama ber-tawassul dengan amal shalihnya, berupa memelihara hak buruh. Orang kedua dengan baktinya kepada kedua orang tua. Orang yang ketiga ber-tawassul dengan takutnya kepada Allah, sehingga menggagalkan perbuatan keji yang hendak ia lakukan. Akhirnya Allah membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghalanginya, sampai mereka semua selamat.

6. Tawassul dengan meninggalkan maksiat:

Misalnya dengan meninggalkan minum khamr (minum-minuman keras), berzina dan sebagainya dari berbagai hal yang diharamkan. Salah seorang dari mereka yang terperangkap dalam gua, juga ber-tawassul dengan meninggalkan zina, sehingga Allah menghilangkan kesulitan yang dihadapinya.

Adapun umat Islam sekarang, mereka meninggalkan amal shalih dan bertawassul dengannya, lalu menyandarkan diri ber-tawassul dengan amal shalih orang lain yang telah mati. Mereka melanggar petunjuk Rasulullah Shallalahu alaihi wasallam dan para sahabatnya.

7. Tawassul dengan memohon doa kepada para nabi dan orang-orang shalih yang masih hidup.

Tersebutlah dalam riwayat, bahwa seorang buta datang kepada Nabi . Orang itu berkata, "Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar Dia menyembuhkanku (sehingga bisa melihat kembali)." Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Jika engkau menghendaki, aku akan berdoa untukmu, dan jika engkau menghendaki, bersabar adalah lebih baik bagimu." Ia (tetap) berkata, "Doakanlah." Lalu Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya berwudhu secara sempurna, lalu shalat dua rakaat, selanjutnya beliau menyuruhnya berdoa dengan mengatakan,

أللهم إني أسألك، وأتوجه إليك بنبيك نبي الرحمة يا محمد إني توجهت بك إلي ربي في حاجتي هذه، لتقضي لي، اللهم فشفعه في، وشفعني فيه. قال : ففعل الرجل فبريء
"Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu, dan aku menghadap kepadaMu dengan (perantara) NabiMu, seorang Nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantara)mu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar dipenuhiNya untukku. Ya Allah jadikanlah ia pemberi syafaat kepadaku, dan berilah aku syafaat (pertolongan) di dalamnya." la berkata, "Laki-laki itu kemudian melakukannya, sehingga ia sembuh." (HR. Ahmad, hadits shahih)

Hadits di atas mengandung pengertian bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam berdoa untuk laki-laki buta tersebut dalam keadaan beliau masih hidup. Maka Allah mengabulkan doanya.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam memerintahkan orang tersebut agar berdoa untuk dirinya. Menghadap kepada Allah untuk meminta kepadaNya agar Dia menerima syafaat NabiNya . Maka Allah pun menerima doanya.

Doa ini khusus ketika Nabi masih hidup. Dan tidak mungkin berdoa dengannya setelah beliau wafat. Sebab para sahabat tidak melakukan hal itu. Juga, orang-orang buta lainnya tidak ada yang mendapatkan manfaat dengan doa itu, setelah terjadinya peristiwa tersebut.